JAKARTA, PustakaJC.co - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti penurunan drastis angka pernikahan di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Dari semula rata-rata 2 juta pasangan per tahun, kini hanya tersisa 100–200 ribu pasangan. Fenomena ini dinilai sebagai persoalan serius, bukan hanya secara demografi, tetapi juga menyangkut masa depan nilai-nilai kebangsaan.
“Lima puluh persen orang tidak mau nikah. Sudah nikah, tidak mau punya anak,” ungkap Menag Nasaruddin saat menerima audiensi Pimpinan Pusat Wanita Islam, dikutip dari kemenag.go.id, Kamis, (10/7/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Menag mengapresiasi kontribusi Wanita Islam, organisasi perempuan nasional yang aktif dalam program bimbingan perkawinan (Bimwin) dan pendampingan sertifikasi halal untuk UMKM.
Organisasi ini telah memiliki 750 pendamping halal dan telah membantu lebih dari 12.000 pelaku usaha mengantongi sertifikat halal dari BPJPH. Selain itu, mereka juga membuka peluang kerja sama pelatihan fasilitator Bimwin, yang diharapkan bisa disertifikasi oleh Kementerian Agama.
“Kalau hasil pelatihan kita tinggal di-improve sama Kemenag, itu bagus. Karena anggaran kita sekarang hampir nggak ada untuk kegiatan, hanya untuk gaji pegawai,” jelas Nasaruddin.
Ia juga menegaskan pentingnya dukungan terhadap ormas perempuan seperti Wanita Islam yang telah menunjukkan kemandirian tanpa bergantung pada anggaran negara.
“Tanpa satu sen dari negara, kontribusi terhadap pembinaan umat itu luar biasa. Ini bentuk nyata peran strategis ormas perempuan,” tutup Imam besar masjid Istiqlal ini.
Dengan sinergi pemerintah dan ormas perempuan, Menag berharap program-program strategis seperti Bimwin dan pendampingan halal dapat menjangkau lebih luas dan membentuk masyarakat yang kuat secara spiritual, ekonomi, dan sosial. (ivan)