“Workshop ini diadakan untuk merespon situasi agar kita sebagai pengampu pesantren berbenah karena maraknya kasus kekerasan seksual di pesantren,” kata Nabilah Munsyarihah, Ketua Panitia.
Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh penting sebagai fasilitator dan narasumber, yakni Hj Alissa Qotrunnada Wahid, psikolog dan aktivis sosial, serta Maya Dina Rohmi Musfiroh, pendamping komunitas dan peneliti isu gender.
Peserta diajak menggali pengalaman nyata serta membedah pola-pola kekerasan seksual yang sering terjadi di pesantren. Tak hanya itu, mereka juga menyusun langkah preventif serta membayangkan dampak dalam jangka panjang jika gerakan ini dijalankan ataupun diabaikan.