JOMBANG, PustakaJC.co – Ketulusan dan sikap hidup yang bersahaja menjadi alasan utama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dicintai lintas kelompok. Hal itu disampaikan Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) saat mengisi tausiyah pada Peringatan Haul Ke-16 Gus Dur di Kompleks Makam Masyayikh Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu, (17/12/2025).
Gus Mus menegaskan, Gus Dur adalah sosok pemimpin yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”, sehingga seluruh hidupnya diabdikan untuk melayani masyarakat tanpa pamrih. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (19/12/2025).
“Banyak orang ilmunya tinggi dan umurnya panjang, tetapi belum selesai dengan urusan dirinya. Gus Dur sudah selesai dengan dirinya,” ujar Gus Mus.
Menurut Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu, kesederhanaan Gus Dur tercermin dalam sikap hidupnya yang santai dan membumi, yang kemudian dikenal lewat ungkapan khas ‘Gitu Aja Kok Repot’. Prinsip tersebut membuat Gus Dur mudah diterima dan dirasakan kehadirannya oleh semua lapisan masyarakat.
“Ada yang melihat Gus Dur dari sisi kemanusiaan, demokrasi, dan toleransi. Tapi menurut saya, beliau dicintai Allah,” tutur Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu.
Ia juga mengenang sisi kesahajaan Gus Dur saat menjabat Presiden RI. Salah satunya, Gus Dur pernah meminjam uang kepada anaknya hanya untuk membeli bakso.
“Padahal dulu waktu di Mesir, beliau sering mentraktir saya. Itu yang membuat saya heran,” kenangnya.
Bagi Gus Mus, sikap tersebut menegaskan bahwa Gus Dur tidak pernah menjadikan jabatan sebagai alat kepentingan pribadi.
“Yang tersisa dari Gus Dur hanya memberi. Tidak ada pamrih dan tidak menginginkan apa-apa,”tegasnya.
Sementara itu, putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid), menyebut ayahnya dicintai banyak kalangan karena ketulusan dalam membela kelompok lemah dan terpinggirkan.
“Gus Dur selalu berada di barisan terdepan untuk mereka yang terzalimi dan mustadh’afin,” ujarnya.
Yenny mengajak warga NU menjadikan momentum Haul Ke-16 sekaligus penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional untuk memperkuat kembali nilai keikhlasan dan pengabdian ulama dalam membesarkan Nahdlatul Ulama.
“Keikhlasan itulah yang perlu kita rawat dan lanjutkan,” pungkasnya. (ivan)