SURABAYA, PustakaJC,.co – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah SWT bukan sekadar pelengkap cerita kehidupan, melainkan sebagai pelaku utama yang memegang peran dan tanggung jawab masing-masing.
Pesan tersebut disampaikan KH Miftachul Akhyar dalam agenda rutin Ngaji Syarah Al-Hikam ke-154 di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan No. 100, Surabaya, Jumat, (30/1/2026).
Menurutnya, hidup manusia tidak berhenti pada sekadar lahir, hidup, lalu mati tanpa makna. Setiap insan membawa tugas yang telah ditetapkan Allah SWT sejak awal penciptaannya. Dilansir dari nuonline.go.id, Sabtu, (31/1/2026).
“Kita ini diciptakan Allah bukan hanya numpang lewat. Ada tugas yang harus dijalani. Wujud kita bukan figuran, tapi lakon yang memegang peran,” ujar KH Miftachul Akhyar melalui kanal Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar.
Ia menekankan, kesadaran akan tugas hidup menjadi kunci agar manusia menjalani kehidupan secara bermakna dan tidak kehilangan arah. Manusia, kata dia, adalah aktor utama dalam skenario Ilahi, bukan sekadar penggembira dalam perjalanan dunia.
Dalam pengajian tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah itu juga mengajak umat Islam untuk menerima setiap anugerah Allah dengan penuh keikhlasan, namun tetap disertai ikhtiar yang tidak bertentangan dengan syariat.
“Terima dengan ikhlas setiap anugerah Allah. Tetap ikhtiar, tapi ikhtiar yang tidak dilarang dalam agama,” tuturnya.
KH Miftach kemudian mencontohkan fenomena seseorang yang awalnya merasa tidak memiliki bakat di suatu bidang, namun justru berhasil setelah menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah.
“Kadang seseorang merasa tidak punya basic, tapi ketika dijalani dengan serius justru berhasil. Itu bukti bahwa sampeyan butuh kepada Allah,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberhasilan tersebut bukan semata hasil kemampuan pribadi, melainkan karena Allah memberikan kekuatan dan pertolongan di luar kemampuan dasar manusia.
Lebih lanjut, KH Miftachul Akhyar mengingatkan agar umat Islam tidak memprotes ketentuan dan ciptaan Allah. Menurutnya, berbagai peristiwa dalam hidup adalah bentuk Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak.
“Allah sedang mendemonstrasikan kekuasaan-Nya. Kita tidak boleh menolak, apalagi protes,”tegasnya.
Ia pun mengingatkan agar manusia tidak sembarangan mengubah ciptaan Allah, kecuali dalam kondisi darurat yang benar-benar dibenarkan oleh syariat.
“Mengubah ciptaan Allah itu tidak boleh, kecuali untuk kebutuhan yang mendesak atau darurat,” pungkasnya. (ivan)