KH Nasaruddin juga menyoroti kuatnya tradisi akhlak di lingkungan pesantren yang menjadi fondasi utama karakter NU. Relasi santri dan kiai, kata dia, dibangun atas adab, keteladanan, dan rasa hormat, meski perbedaan pendapat tetap terbuka.
“Sekalipun terdapat perbedaan pandangan, akhlakul karimah seorang santri tetap menyertai sikapnya terhadap kiai,” tuturnya.
Nilai akhlak tersebut dinilai menjadi penyangga NU dalam menghadapi berbagai dinamika internal dan tantangan eksternal. Dalam konteks itu, NU digambarkan sebagai keluarga besar yang hidup dengan dinamika, namun tetap terikat dalam ikatan kebersamaan.
“NU ini seperti keluarga besar. Penuh dinamika, tetapi tetap satu keluarga. Tidak ada orang luar, karena siapa pun bisa menjadi bagian di dalamnya,” ujarnya.