Menurut Gus Zaim, pendidikan di pesantren bersifat membentuk karakter, menanamkan iman, rasa, akhlak, dan amal. Sementara pengajaran bersifat verbal dan rasional, menanamkan ilmu lahiriah. Keduanya saling melengkapi, tetapi pendidikan karakter tetap menempati posisi utama.
Ia menambahkan, hubungan antara kiai dan santri bukan hanya akademik, melainkan moral dan batin. Banyak alumni pesantren menunjukkan loyalitas kuat terhadap pondok dan kiainya.
“Sekali santri, selamanya tetap santri. Tidak ada istilah mantan santri,” jelas Gus Zaim.
Pesantren, menurutnya, unik karena mampu memadukan ilmu dan akhlak sekaligus membentuk pribadi yang beriman dan berbudi pekerti luhur. Santri dididik melalui kasih sayang, keteladanan, dan perhatian, bukan sekadar hukuman atau kemarahan. (ivan)