SURABAYA, PustakaJC.co - Kabar duka datang dari Suriah. Ulama bermazhab Syafi’i, Syekh Muhammad Hasan Hitou, wafat pada Selasa, 24 Februari 2026, dalam usia 83 tahun. Lahir pada 1943 M (1362 H), ia dikenal sebagai pakar fikih dan ushul fikih yang produktif melahirkan karya ilmiah.
Salah satu magnum opus-nya adalah Mausu‘ah al-Fiqh al-Syafi‘i wa al-Muqaran (Ensiklopedia Fikih Syafi’i dan Perbandingan Mazhab) yang ditargetkan rampung 140–160 jilid. Hingga akhir hayatnya, sekitar 60 jilid telah diselesaikan. Selain itu, ia juga menulis Fiqhus Shiyam, kitab yang secara khusus mengulas fikih puasa Ramadhan. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (5/3/2026).
Dalam kitab inilah ia merangkum enam amalan sunnah puasa yang menyeimbangkan dimensi spiritual dan sosial.
1. Makan Sahur
Sahur disunahkan karena mengandung berkah, membantu kekuatan berpuasa, dan menjadi pembeda dari Ahlul Kitab. Waktunya dimulai dari pertengahan malam hingga terbit fajar. Bahkan, kesunahan sahur tetap terwujud meski hanya dengan seteguk air.
2. Mengakhirkan Sahur
Sebagaimana dianjurkan menyegerakan berbuka, sahur pun dianjurkan diakhirkan mendekati waktu Subuh. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, jarak antara sahur Nabi dan salat Subuh sekitar bacaan 50 ayat Al-Qur’an.
3. Berbuka dengan Kurma
Rasulullah SAW menganjurkan berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, maka dengan air karena air itu suci dan menyucikan. Anjuran ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.
4. Berdoa saat Berbuka
Doa yang diajarkan merupakan gabungan dua riwayat sahabat, di antaranya dari Abdullah bin Umar. Doa tersebut menegaskan tauhid, rasa syukur, dan harapan atas pahala dari Allah SWT.
5. Memberi Buka Puasa kepada Orang Lain
Inilah dimensi sosial puasa. Memberi makan orang berbuka, walau hanya sebutir kurma atau seteguk air, bernilai pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.
6. Memperbanyak Sedekah dan Membaca Al-Qur’an
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW digambarkan paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan ketika beliau bertadarus Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril.
Enam amalan ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum memperkuat hubungan vertikal kepada Allah sekaligus memperluas kepedulian horizontal kepada sesama.
Empat amalan menegaskan kesalehan spiritual: sahur, mengakhirkan sahur, berbuka sesuai sunnah, dan berdoa. Dua lainnya menegaskan kesalehan sosial: berbagi makanan dan memperbanyak sedekah.
Warisan pemikiran Syekh Muhammad Hasan Hitou mengingatkan bahwa puasa sejati tak berhenti pada ibadah personal, tetapi menjelma menjadi energi kepedulian sosial. Lahul fatihah. (ivan)