SURABAYA, PustakaJC.co – KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa bulan Syawal bukan sekadar penutup Ramadan, tetapi menjadi titik awal peningkatan kualitas dzikir dan amal ibadah umat Islam.
Menurut Rais Aam PBNU tersebut, makna Syawal sendiri adalah “peningkatan”. Karena itu, umat Islam diminta tidak kembali pada kebiasaan lama setelah sebulan ditempa ibadah di bulan Ramadan. Dilansir dari nu.or.id, Rabu, (1/3/2026).
“Syawal itu bulan peningkatan. Harus meningkat, jangan kayak kemarin,” tegasnya.
Kiai Miftach menjelaskan, peningkatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui memperbanyak dzikir sebagai upaya menjaga dan menaikkan derajat ketakwaan. Terlebih, setelah Ramadan, umat Islam diyakini kembali dalam keadaan fitrah.
Namun, dzikir yang dimaksud tidak hanya sebatas lisan. Ia menekankan pentingnya menghadirkan Allah dalam hati hingga seluruh aktivitas hidup mengarah kepada-Nya.
“Kalau orang dzikir itu hatinya Allah saja. Tangan, mata, telinga, semua anggota tubuh mengarah kepada Allah,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah ini juga mengingatkan bahwa menjadi ahli dzikir tidak berarti meninggalkan kewajiban. Ibadah wajib harus dituntaskan, sementara amalan sunnah terus ditingkatkan.
Menurutnya, konsistensi tersebut akan membawa seseorang pada “manisnya dzikir” dan “manisnya iman”, yakni kondisi ketika seluruh gerak hidupnya terarah kepada Allah.
Ia bahkan mengutip hadits qudsi, bahwa hamba yang mencapai derajat tersebut akan dicintai Allah. Doanya pun dikabulkan, bahkan tanpa harus diucapkan secara lisan.
“Kalau minta, tidak harus diucapkan. Allah sudah tahu,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menambahkan bahwa berdoa secara lisan tetap penting sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia selalu membutuhkan Allah.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Syawal bukan akhir dari ibadah Ramadan, melainkan awal konsistensi spiritual yang lebih tinggi. (ivan)