JAKARTA, PustakaJC.co – Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) ikut mengambil peran dalam merespons konflik global dengan cara yang konkret: mengirimkan surat perdamaian ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ajakan itu disampaikan dalam acara Halal Bihalal dan Tasyakur Harlah ke-80 Muslimat NU di Kantor PP Muslimat NU, Jakarta Selatan, Kamis, (2/4/2026).
Menurut Khofifah, organisasi perempuan memiliki posisi strategis dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia. Ia meminta seluruh struktur, mulai dari PC, PW hingga PCI Muslimat NU di luar negeri, aktif menyuarakan pesan damai. Dilansir dari nuonline.go.id, Jumat, (3/4/2026).
“PC, PW, dan PCI agar membuat surat dukungan dengan menggandeng Kementerian PPPA untuk mengajak semua organisasi perempuan meminta kepada PBB membangun perdamaian yang substansif,” ujarnya.
Khofifah menilai konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi berlangsung lama dan berdampak luas. Ia menyinggung ketegangan di Iran, Lebanon, hingga Yaman yang dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dampak konflik tersebut, lanjutnya, tidak hanya berhenti pada aspek geopolitik, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi global. Kenaikan harga energi hingga inflasi disebut menjadi ancaman nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kekhawatiran global ini bisa memicu inflasi dan memperpanjang ketidakdamaian. Dampaknya bisa jangka panjang,” tegasnya.
Khofifah juga mendorong Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi untuk menggerakkan jejaring organisasi perempuan agar bersama-sama menyuarakan perdamaian ke PBB.
Ia menegaskan, upaya menciptakan perdamaian tidak hanya dilakukan di level global, tetapi harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
“Meneduhkan peradaban ini harus dimulai dari skala lokal, regional, nasional hingga global,” katanya.
Khofifah mencontohkan dampak konflik global yang sudah dirasakan di berbagai negara, seperti kenaikan harga LPG yang turut memengaruhi stabilitas rumah tangga. Dalam kondisi tersebut, perempuan disebut menjadi kelompok yang paling terdampak.
Sebagai informasi, eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada awal April 2026 turut memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga BBM domestik serta menekan anggaran subsidi energi di Indonesia.
Selain itu, potensi gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz juga dapat memicu lonjakan biaya logistik global dan memperparah inflasi.
Di tengah situasi tersebut, Khofifah menegaskan pentingnya peran masyarakat sipil, khususnya perempuan, dalam menghadirkan narasi damai sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas dunia.(ivan)