Perpres Ditjen Pesantren Diteken, Kemenag Siapkan Struktur dan SDM

bumi pesantren | 04 April 2026 07:14

Perpres Ditjen Pesantren Diteken, Kemenag Siapkan Struktur dan SDM
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i. (dok nuonline)

JAKARTA, PustakaJC.co – Wakil Menteri Agama, Muhammad Syafi’i, memastikan Peraturan Presiden (Perpres) tentang pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren telah ditandatangani. Saat ini, regulasi tersebut tengah dalam proses telaah sebelum resmi diundangkan dalam Lembaran Negara.

 

“Perpres tentang Direktorat Jenderal Pesantren sudah ditandatangani. Ini tinggal proses administrasi untuk pengundangan,” ujar Wamenag dalam agenda penyusunan organisasi dan tata kerja Ditjen Pesantren di Jakarta, Kamis, (2/4/2026).

 

Menurutnya, pembentukan Ditjen Pesantren menjadi langkah strategis mengingat besarnya peran pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Selain jumlah santri yang besar, kontribusi para kiai dinilai krusial dalam menjaga nilai keagamaan dan kebangsaan. Dilansir dari Kemenag.go.id, Sabtu, (4/4/2026).

 

Dalam rancangan yang disiapkan Kementerian Agama Republik Indonesia, Ditjen Pesantren akan memiliki lima direktorat utama, yakni:

 

• Direktorat Pendidikan Muadalah, Diniyah Formal, dan Kajian Kitab Kuning

• Direktorat Pendidikan Ma’had Aly

• Direktorat Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an

• Direktorat Pemberdayaan Pesantren

• Direktorat Pengembangan Dakwah Pesantren

 

 

Struktur ini dirancang saling melengkapi agar pelayanan terhadap kebutuhan pesantren berjalan optimal.

 

Selain organisasi, aspek sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian. Wamenag menegaskan posisi strategis harus diisi figur yang memahami dunia pesantren secara langsung.

 

“Untuk urusan kurikulum dan pengasuhan, harus diisi oleh orang yang paham ruh pesantren. Sementara bidang pemberdayaan bisa melibatkan tenaga ahli sesuai kompetensi,” tegasnya.

 

Kehadiran Ditjen Pesantren diharapkan memperkuat peran negara dalam pengembangan pendidikan Islam, sekaligus mencetak generasi yang unggul secara intelektual dan kokoh secara spiritual. (ivan)