Struktur ini dirancang saling melengkapi agar pelayanan terhadap kebutuhan pesantren berjalan optimal.
Selain organisasi, aspek sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian. Wamenag menegaskan posisi strategis harus diisi figur yang memahami dunia pesantren secara langsung.
“Untuk urusan kurikulum dan pengasuhan, harus diisi oleh orang yang paham ruh pesantren. Sementara bidang pemberdayaan bisa melibatkan tenaga ahli sesuai kompetensi,” tegasnya.
Kehadiran Ditjen Pesantren diharapkan memperkuat peran negara dalam pengembangan pendidikan Islam, sekaligus mencetak generasi yang unggul secara intelektual dan kokoh secara spiritual. (ivan)