Ia juga mengulas sejarah berdirinya NU yang tak lepas dari peran ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan KH Kholil Bangkalan, yang mengirim simbol penting berupa ayat Al-Qur’an, tongkat, dan tasbih sebagai isyarat berdirinya organisasi.
Namun demikian, ia menilai tantangan besar NU saat ini adalah belum optimalnya implementasi nilai simbolik tersebut, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi umat. Ia menyebut, meskipun warga NU mendominasi populasi Muslim Indonesia, kekuatan ekonominya masih belum sebanding.
“Warga NU yang sangat besar itu, secara ekonomi baru sekitar 30 persen yang unggul. Ini menjadi pekerjaan rumah besar,” tegasnya.