Abu Mudi Ungkap Besarnya Keutamaan Majelis Taklim, Jamaah Diajak Tak Tinggalkan Pengajian

bumi pesantren | 15 April 2026 19:05

Abu Mudi Ungkap Besarnya Keutamaan Majelis Taklim, Jamaah Diajak Tak Tinggalkan Pengajian
Syekh Hasanoel Basri atau Abu Mudi. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - Mustasyar PBNU, Syekh Hasanoel Basri atau yang akrab disapa Abu Mudi, menegaskan besarnya keutamaan majelis taklim dalam kehidupan umat Islam. Hal itu ia sampaikan dalam pengajian rutin Tastafi, Rabu, (15/4/2026).

 

Menurutnya, majelis taklim bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang turunnya keberkahan, rahmat, dan ketenangan dari Allah. Dilansir dari nu.or.id, Rabu, (15/4/2026).

 

“Kalau orang tahu kelebihan orang yang datang ke majelis taklim, pasti mereka akan berebut hadir,” ujarnya.

 

Abu Mudi menjelaskan, keutamaan majelis taklim tidak hanya terletak pada ilmu yang diperoleh, tetapi juga pada nilai spiritual yang dirasakan oleh para jamaah yang hadir langsung di dalamnya.

 

 

Di tengah perkembangan teknologi, ia mengakui bahwa pengajian kini bisa diakses melalui berbagai platform digital seperti YouTube dan radio. Hal ini menjadi solusi bagi masyarakat yang berada jauh dari lokasi pengajian.

 

“Ada yang jauh, tidak bisa hadir, tapi mereka cari tempat supaya bisa dengar pengajian,” kata Abu Mudi.

 

Meski demikian, Abu Mudi tetap menekankan bahwa menghadiri majelis taklim secara langsung memiliki keutamaan yang lebih besar. Kehadiran fisik dinilai menghadirkan adab, kedekatan dengan guru, serta suasana rohani yang tidak sepenuhnya bisa tergantikan oleh media daring.

 

“Alangkah bagusnya pengajian itu dihadiri langsung dalam majelisnya,” tegasnya.

 

 

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan komitmennya untuk terus berdakwah tanpa memandang jumlah jamaah yang hadir. Baginya, mengajar adalah amanah yang harus dijalankan dalam kondisi apa pun.

 

“Saya tidak terpengaruh pengajian itu sedikit atau banyak jamaah. Tugas saya tetap taklim,” ungkapnya.

 

Ia bahkan mengutip pesan gurunya agar tetap mengajar meski dalam kondisi sendiri.

 

“Beut seumeubeut, walaupun seorang diri,” tambah Mustasyar PBNU itu.

 

 

Pengajian Tastafi sendiri terus menjadi salah satu pusat penguatan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah di Aceh. Konsistensi jamaah, baik yang hadir langsung maupun melalui siaran daring, menunjukkan bahwa majelis ilmu tetap memiliki posisi penting di tengah masyarakat.

 

Di akhir tausiyahnya, Abu Mudi mengajak umat Islam untuk tidak meninggalkan majelis taklim, karena di sanalah terdapat jalan memperoleh ilmu, keberkahan, serta kedekatan kepada Allah. (ivan)