SURABAYA, PustakaJC.co – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya resmi dilantik dan siap menjalankan operasional pelayanan jemaah haji tahun 2026. Pelantikan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian penyelenggaraan ibadah haji yang dijadwalkan mulai 21 April mendatang. Jum'at, (17/4/2026).
“Semua visa jemaah haji kita sudah keluar, itu artinya kerja keras tim sudah terbayar,” ujarnya. Demikian dikutip dari surabaya.jawapos.com, Jum'at, (17/4/2026).
Sebanyak 43.200 jemaah dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur akan diberangkatkan melalui Embarkasi Surabaya dalam 116 kelompok terbang (kloter). Seluruh persiapan, termasuk administrasi keberangkatan, telah rampung.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa proses persiapan telah dilakukan jauh sebelum pelantikan. Salah satu indikator kesiapan tersebut adalah seluruh visa jemaah yang sudah terbit.
Selain pelantikan, kegiatan juga diisi dengan meal test atau uji kelayakan makanan untuk konsumsi jemaah selama penerbangan. Tahun ini, pemerintah menerapkan kebijakan khusus dengan memastikan menu utama tidak pedas dan tidak asam.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga kondisi kesehatan jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki gangguan pencernaan. Meski demikian, sambal atau bumbu tambahan tetap disediakan secara terpisah bagi jemaah yang menginginkannya.
Menurut Irfan, penyesuaian menu ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan selama perjalanan udara yang cukup panjang menuju Arab Saudi.
Selain itu, pemerintah juga mulai menguji skema baru berupa embarkasi tanpa asrama haji, yang saat ini diterapkan di Yogyakarta dengan memanfaatkan hotel di sekitar bandara. Jika berhasil, model ini berpotensi diterapkan di daerah lain.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan apresiasi atas penambahan kuota jemaah haji tahun ini. Ia berharap kebijakan tersebut dapat mengurangi panjangnya antrean keberangkatan.
Ke depan, pengembangan embarkasi juga terus didorong, termasuk rencana menjadikan Bandara Dhoho Kediri sebagai alternatif embarkasi baru, meskipun masih membutuhkan dukungan fasilitas pendukung seperti asrama haji. (frchn)