Selain itu, Gus Baha mengingatkan para peneliti tafsir agar memperhatikan sisi basyariyah atau kemanusiaan para nabi dalam Al-Qur’an. Menurutnya, kisah para nabi juga memuat sisi kehidupan manusia biasa, termasuk persoalan rumah tangga dan ekonomi.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di Makkah atas perintah Allah. Dalam kisah itu, Nabi Ibrahim juga memohon rezeki kepada Allah untuk keluarganya.
“Manusia itu pasti mendiskusikan ekonomi. Jadi mesti diskusinya itu rezeki, sehingga mendiskusikan rezeki itu tidak mengurangi kesakralan nubuwah,” pungkasnya. (ivan)