Gus Baha Tekankan Pentingnya Sejarah bagi Peneliti Al-Qur’an

bumi pesantren | 29 Mei 2026 12:33

Gus Baha Tekankan Pentingnya Sejarah bagi Peneliti Al-Qur’an
Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - KH Ahmad Bahauddin Nursalim menegaskan pentingnya pemahaman sejarah bagi para peneliti Al-Qur’an atau mufassir agar tafsir ayat tidak keluar dari makna yang sebenarnya. Hal itu disampaikan saat Ngaji Bareng di Universitas Islam Indonesia.

 

Menurut Gus Baha, konstruksi keilmuan dalam memahami Al-Qur’an harus utuh, termasuk memahami konteks sejarah di balik turunnya ayat. Ia mencontohkan QS Ali ‘Imran ayat 97 tentang Maqam Ibrahim sebagai jawaban Allah atas keraguan kaum Yahudi terhadap kenabian Nabi Muhammad SAW. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (29/5/2026).

 

“Masa iya orang Arab itu ada yang turunan Ibrahim. Terus Allah bilang ‘fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm’. Bukti kalau Ibrahim pernah hidup di Makkah itu ada jejak kakinya,” ujar Gus Baha.

 

 

 

Ia menjelaskan, Maqam Ibrahim bukan berarti makam atau kuburan, melainkan jejak kaki Nabi Ibrahim AS saat membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail AS di Makkah.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Narukan, Rembang, Jawa Tengah itu mengatakan, pemahaman sejarah penting agar mufassir memahami bahwa ayat tersebut menjadi dalil bahwa Nabi Muhammad SAW benar merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS melalui jalur Nabi Ismail AS.

 

Gus Baha juga menyinggung QS Ibrahim ayat 37 yang menceritakan doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah Makkah yang tandus.

 

“Kalau Anda ndak baca tarikh (sejarah), itu enggak ngerti ayat-ayat itu adalah Allah sedang cerita bahwa Muhammad benar turunan nabi,” terangnya.

 

 

Selain itu, Gus Baha mengingatkan para peneliti tafsir agar memperhatikan sisi basyariyah atau kemanusiaan para nabi dalam Al-Qur’an. Menurutnya, kisah para nabi juga memuat sisi kehidupan manusia biasa, termasuk persoalan rumah tangga dan ekonomi.

 

Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di Makkah atas perintah Allah. Dalam kisah itu, Nabi Ibrahim juga memohon rezeki kepada Allah untuk keluarganya.

 

“Manusia itu pasti mendiskusikan ekonomi. Jadi mesti diskusinya itu rezeki, sehingga mendiskusikan rezeki itu tidak mengurangi kesakralan nubuwah,” pungkasnya. (ivan)