SURABAYA, PustakaJC.co - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-27 Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia itu berada dalam situasi yang tidak mudah. Kepemimpinan NU terbelah ke dalam dua kubu besar, yakni kubu Cipete yang bermuara pada Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid dan kubu Situbondo yang dipimpin KH As’ad Syamsul Arifin.
Perbedaan pandangan tersebut sudah mulai terasa setelah wafatnya Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri pada 25 April 1980. Kubu Situbondo, yang juga dikenal sebagai kubu khittah, mendapat dukungan dari kalangan muda NU yang aktif, termasuk Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kedua kubu sama-sama menggelar Musyawarah Nasional (Munas) dan menyiapkan Muktamar ke-27 dengan panitia masing-masing. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (14/7/2026).
Kubu Situbondo menunjuk Gus Dur sebagai ketua panitia muktamar, sedangkan kubu Cipete menunjuk Chalid Mawardi. Dalam suasana politik Orde Baru yang represif, kedua kubu sama-sama menerima Pancasila sebagai asas organisasi. Namun pemerintah saat itu dinilai lebih mengapresiasi hasil Munas Situbondo karena dianggap lebih konseptual dibandingkan Munas Cipete yang dipandang sebagai langkah politik untuk memperoleh simpati pemerintah.
Setelah melihat dukungan pemerintah yang cenderung mengarah kepada kubu Situbondo, kubu Cipete mulai melunak. Para kiai sepuh kemudian mengambil peran penting untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.