Menariknya, para kiai yang menjadi bagian dari ahlul halli wal aqdi tidak bersedia menduduki posisi Rais Aam. Mereka justru menyerahkan amanah kepemimpinan organisasi kepada KH Achmad Siddiq.
Muktamar ke-27 NU akhirnya berlangsung sukses dan menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi. Setelah tugasnya selesai, para kiai sepuh kembali ke pesantren dan masyarakat. KH As’ad kembali ke Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, KH Machrus Aly memilih fokus menjadi pengurus syuriyah di Jawa Timur, sementara KH Ali Maksum sejak awal tidak berkeinginan menjadi Rais Aam.
Peran para kiai sepuh yang “turun gunung” menjelang Muktamar 1984 menjadi salah satu fragmen penting dalam sejarah NU. Melalui keteladanan, musyawarah, dan kebesaran hati, mereka berhasil menjembatani perbedaan demi menjaga persatuan organisasi. (ivan)