Turun Gunung, Para Kiai Sepuh Antar NU Menuju Muktamar 1984

bumi pesantren | 14 Juli 2026 12:26

 

Pertemuan bersejarah digelar di rumah Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasyim Latief di Sepanjang, Sidoarjo, pada 10 September 1984. Dalam suasana tahlilan, kedua kubu dipertemukan dan berhasil mencapai kesepahaman.

 

Dari pertemuan itu lahirlah dokumen penting bernama Maklumat Keakraban yang ditandatangani tujuh ulama terkemuka, yakni KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ali Maksum, KH Idham Chalid, KH Machrus Aly, KH Masjkur, KH Saifuddin Zuhri, dan KH Achmad Siddiq.

 

Maklumat tersebut berisi komitmen untuk mengakhiri konflik, saling memaafkan, serta bersama-sama menyukseskan Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada Desember 1984. Kesepakatan itu menjadi titik balik yang mengakhiri pertikaian panjang di tubuh NU.

 

Keterlibatan langsung para kiai sepuh juga melahirkan gagasan perubahan sistem pemilihan pimpinan tertinggi organisasi. Pemilihan langsung untuk menentukan Rais Aam diganti dengan mekanisme musyawarah para ulama sebagaimana tradisi awal NU yang dikenal dengan sistem ahlul halli wal aqdi.

 

Sistem tersebut memerlukan figur ulama kharismatik yang dihormati dan dipercaya oleh seluruh pihak. Pada saat itu, KH As’ad Syamsul Arifin bersama KH Ali Maksum dan KH Machrus Aly memainkan peran sentral dalam proses tersebut.