SURABAYA, PustakaJC.co – Semangat patriotisme dan literasi berpadu dalam peringatan Hari Kunjung Perpustakaan yang digelar oleh santri dan santriwati MTs Muhyiddin Qur’aniy pada Selasa, (29/9/2026). Melalui Program WARAS (Wisata Arsip Anak Sekolah), puluhan siswa diajak menyelami sejarah perjuangan bangsa sekaligus memahami pentingnya kearsipan sejak dini.
Santri MTs Muhyiddin Qur’aniy saat menyimak rekaman pidato perjuangan Bung Tomo di Museum Tugu Pahlawan Surabaya dalam kegiatan Program WARAS, Selasa, (29/9/2026).
Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke Kompleks Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Di museum bawah tanah tersebut, suasana hening dan penuh khidmat menyelimuti para santri saat mendengarkan rekaman audio pidato membakar semangat dari Bung Tomo. Tak berhenti di situ, deretan siswa tampak terhanyut dan mendalami alur cerita saat menyaksikan pemutaran film dokumenter Peristiwa 10 November serta momen bersejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Usai menelusuri jejak sejarah di Tugu Pahlawan, rombongan melanjutkan rute kedua menuju Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur. Meski terik matahari siang memancar cukup menyengat, sengatan panas tersebut justru memperkuat refleksi para santri akan beratnya perjuangan para pahlawan di masa lalu dalam mempertahankan kemerdekaan.
Ketua Program WARAS Disperpusip Jatim,Wahyu Setiawan, bersama Kepala MTs Muhyiddin Qur’aniy, Abil Khoiri, saat proses penandatanganan berita acara kegiatan Program WARAS, Selasa, (29/9/2026).
Ketua Program WARAS Disperpusip Jatim,Wahyu Setiawan, menjelaskan bahwa program edukatif ini dirancang untuk mendekatkan dunia kearsipan kepada generasi muda.
"Program WARAS bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang kearsipan bagi anak-anak sekolah sejak dini. Ini adalah bentuk peningkatan literasi sejarah bangsa melalui kearsipan dan pemahaman akan pentingnya arsip bagi jalannya pemerintahan," ujar Wahyu.
Ia juga menambahkan bahwa untuk jangkauan yang lebih luas, program ini adaptif terhadap teknologi.
"Dalam kondisi tertentu, Program WARAS menggunakan sistem daring bagi sekolah-sekolah yang berada di luar Kota Surabaya,"tambahnya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi mendalam dari pihak sekolah. Kepala MTs Muhyiddin Qur’aniy, Akhmad Abil Khoiri Rivaldy, mengungkapkan bahwa pembelajaran luar kelas seperti ini memberikan dampak emosional dan intelektual yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar teori di dalam kelas.
"Kunjungan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan ruang refleksi bagi santri-santri kami. Merekam kembali hembusan semangat Bung Tomo dan memahami arsip sejarah membantu mereka menyadari bahwa masa depan bangsa ada di tangan generasi yang melek sejarah dan literasi," tutur Abil.

Kesan mendalam turut dirasakan oleh para siswa. Ketua OSIM MTs Muhyiddin Qur’aniy, Nayla Indana Zulfa, mengaku sangat tersentuh selama mengikuti seluruh rangkaian acara.
"Saat mendengarkan pidato Bung Tomo dan menonton film Peristiwa 10 November, rasanya merinding sekali. Kami jadi makin paham bahwa merdeka itu mahal, dan melestarikan sejarah lewat arsip adalah tugas kita sebagai generasi penerus," ungkap Zulfa dengan penuh semangat.
Melalui sinergi antara edukasi kearsipan dan penanaman nilai sejarah ini, peringatan Hari Kunjung Perpustakaan tahun 2026 menjadi momen berharga bagi para santri MTs Muhyiddin Qur’aniy untuk terus merawat ingatan sejarah dan membangun budaya literasi yang kokoh. (ivan)