Gelorakan Ekoteologi, PPSN VI 2026 di Malang Ajak Santri Fokus Merawat Bumi

bumi pesantren | 02 Oktober 2026 20:21

 

"Pesantren dan pramuka sama-sama mengajarkan kemandirian, pembentukan karakter, akhlak, serta kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat," ujar Menag Nasaruddin Umar di hadapan ribuan peserta.

 

Acara pembukaan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Asrorun Ni’am Sholeh, serta Dirjen Pesantren Basnang Said.

 

Transformasi Dua Dekade

 

Perjalanan PPSN selama 20 tahun mencatatkan rekam jejak yang terus berkembang di setiap edisinya:

 

  • PPSN I (Cibubur, 2006): Dibuka Menag Maftuh Basyuni dan diikuti lebih dari 5.000 santri. Edisi pertama ini memecahkan rekor MURI lewat kacu Pramuka raksasa, bertepatan dengan pencanangan Gerakan Revitalisasi Pramuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
  • PPSN II (Jatinangor, 2009): Dihadiri Presiden SBY dan 5.500 santri, mencatatkan rekor parade semaphore sepanjang dua kilometer yang menyuarakan lagu-lagu kebangsaan serta dihadiri kontingen negara sahabat.
  • PPSN III (Batam, 2012): Dibuka Menag Suryadharma Ali dengan nuansa Melayu dan bahari, melibatkan 4.339 santri dalam kirab tulisan terpanjang Gurindam Dua Belas.
  • PPSN IV (Tanah Laut, 2015): Dibuka Menag Lukman Hakim Saifuddin dengan 4.000 peserta. Edisi ini melahirkan 33 santri penerima golden ticket program ASEAN SCETRO ke lima negara Asia Tenggara.
  • PPSN V (Muaro Jambi, 2018): Berlangsung dalam semarak Hari Santri dengan 3.500 peserta, melahirkan Satuan Karya (Saka) Amal Bhakti serta memadukan budaya lokal dengan kegiatan iptek berbasis milenial.

 

Melalui PPSN VI di Malang, konsep ekoteologi ditempatkan di barisan terdepan. Tantangan utama santri saat ini tak lagi berfokus pada seremoni atau rekor semata, melainkan melahirkan warisan lingkungan yang tetap hidup dan berkelanjutan bahkan setelah tenda perkemahan dibongkar. (ivan)