Ia menambahkan, anggota dengan karakter qori layak mendapatkan penghormatan tinggi. Namun, keberadaan pihak-pihak yang bertindak sebagai qorak kerap menjadi tantangan tersendiri bagi kesolidan internal organisasi, terlebih di era transparansi digital saat ini.
“Kalau qori, kita sudah angkat tangan hormat. Tapi yang qorak ini? Makanya, NU itu selalu banyak kegaduhan-kegaduhan. Hampir tidak ada kesejukan, hampir. Apalagi zaman keterbukaan medsos, keterbukaan media sosial. Jadi qorak-qoraknya ini mulai kambuh dengan masa-masa yang saat seperti ini,” tutur Rais Aam PBNU tersebut.
Kendati demikian, KH Miftachul Akhyar optimistis bahwa dinamika dan kegaduhan internal dapat berangsur mereda melalui kegiatan keagamaan yang membawa spiritualitas tinggi, seperti peringatan Resolusi Jihad yang diiringi dengan doa bersama dan mujahadah.
“Tapi insyaallah dengan peringatan Resolusi Jihad pada malam ini kita ikuti dengan mujahadah, insyaallah pelan-pelan maka yang qorak-qorak itu akan segera menjadi qori. Allahumma Amin,” pungkasnya menutupi ceramah.
Puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026 di PCNU Surabaya tersebut berlangsung khidmat. Selain mengenang momentum bersejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, ajang ini juga diisi dengan doa bersama (mujahadah) sebagai wujud solidaritas dan kepedulian terhadap kemanusiaan bagi rakyat Palestina. (ivan)