Hari Santri 2026 Rais Aam PBNU Singgung Kegaduhan NU dan Istilah Qori Qorak

bumi pesantren | 25 Oktober 2026 06:53

Hari Santri 2026 Rais Aam PBNU Singgung Kegaduhan NU dan Istilah Qori Qorak
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam Puncak Hari Santri Nasional 2026 yang dirangkai dengan Mujahadah untuk Palestina di halaman Kantor PCNU Surabaya. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mengingatkan warga Nahdliyin agar tidak sekadar menjadikan Resolusi Jihad sebagai kenangan sejarah atau seremoni belaka. Pesan mendalam tersebut disampaikannya dalam Puncak Hari Santri Nasional 2026 yang dirangkai dengan Mujahadah untuk Palestina di halaman Kantor PCNU Surabaya, Kamis, (22/10/2026) malam.

 

Dalam amanatnya, Kiai Miftach menekankan pentingnya merawat makna hakiki dan semangat perjuangan di balik lahirnya Resolusi Jihad agar tetap hidup serta tercermin dalam perilaku sehari-hari warga NU. Dilansir dari jatimpos.co, Minggu, (25/10/2026).

 

“Jangan sampai Resolusi Jihad hanya tinggal kenangan, hanya karena kita dapatkan nama Resolusi Jihad nama Kota Pahlawan, tapi makna daripada hal itu semuanya sudah mengering,” ujar Kiai Miftach di hadapan ribuan jamaah yang hadir.

 

 

 

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia, NU diakui memiliki keberagaman karakter anggota yang sangat dinamis. Untuk menggambarkan spektrum dinamika tersebut, KH Miftachul Akhyar menggunakan permainan kata yang unik dan menyentuh realitas sosial, yakni istilah “qori” dan “qorak”.

 

Istilah qori mengacu pada pembaca Al-Qur'an atau sosok yang menyejukkan dan menghadirkan kedamaian. Sementara qorak merupakan plesetan dari kata korak dalam bahasa Jawa, yang digunakan untuk menyindir pihak-pihak yang kerap memicu kegaduhan.

 

“Kita maklumi memang NU itu organisasi terbesar di dunia, yang anggotanya macam-macam, mulai dari qori’ sampai qorak,” jelasnya.

 

 

Ia menambahkan, anggota dengan karakter qori layak mendapatkan penghormatan tinggi. Namun, keberadaan pihak-pihak yang bertindak sebagai qorak kerap menjadi tantangan tersendiri bagi kesolidan internal organisasi, terlebih di era transparansi digital saat ini.

 

“Kalau qori, kita sudah angkat tangan hormat. Tapi yang qorak ini? Makanya, NU itu selalu banyak kegaduhan-kegaduhan. Hampir tidak ada kesejukan, hampir. Apalagi zaman keterbukaan medsos, keterbukaan media sosial. Jadi qorak-qoraknya ini mulai kambuh dengan masa-masa yang saat seperti ini,” tutur Rais Aam PBNU tersebut.

 

Kendati demikian, KH Miftachul Akhyar optimistis bahwa dinamika dan kegaduhan internal dapat berangsur mereda melalui kegiatan keagamaan yang membawa spiritualitas tinggi, seperti peringatan Resolusi Jihad yang diiringi dengan doa bersama dan mujahadah.

 

“Tapi insyaallah dengan peringatan Resolusi Jihad pada malam ini kita ikuti dengan mujahadah, insyaallah pelan-pelan maka yang qorak-qorak itu akan segera menjadi qori. Allahumma Amin,” pungkasnya menutupi ceramah.

 

Puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026 di PCNU Surabaya tersebut berlangsung khidmat. Selain mengenang momentum bersejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, ajang ini juga diisi dengan doa bersama (mujahadah) sebagai wujud solidaritas dan kepedulian terhadap kemanusiaan bagi rakyat Palestina. (ivan)