Diwartakan dari Popmama, dengan menjalankan prinsip sawang sinawang, seseorang diingatkan untuk tidak menilai kesuksesan atau kebahagiaan hanya berdasarkan apa yang terlihat. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, dengan perjuangan dan tantangan yang berbeda-beda. Dalam pandangan yang lebih luas, bisa jadi apa yang tampak sebagai kebahagiaan orang lain, sebenarnya memiliki sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang.
Dalam praktiknya, filosofi sawang sinawang mengajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki, tidak hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam aspek lain seperti kesehatan, keluarga, atau hubungan sosial. Misalnya, seseorang yang tampak sukses dalam karirnya mungkin sedang menghadapi masalah dalam kehidupan pribadinya. Sebaliknya, orang yang tampak lebih sederhana dalam kehidupan materi, mungkin memiliki kehidupan keluarga yang lebih harmonis dan memuaskan.
Berdasarkan informasi dari Duta Damai Yogyakarta, falsafah ini mengajak untuk melihat lebih jauh daripada sekadar penampilan luar. Pemahaman ini selaras dengan 'nilai syukur' yang sangat dijunjung tinggi dalam tradisi Jawa. Dengan lebih banyak bersyukur, seseorang akan mampu menerima kehidupan apa adanya dan merasakan kebahagiaan sejati, tanpa perlu terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.