SURABAYA, PustakaJC.co – Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei kembali menjadi momentum penting untuk menakar arah pendidikan Indonesia. Tahun 2026, tema nasional yang diusung yakni “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” menjadi pesan kuat bahwa pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari digitalisasi, kesenjangan akses, hingga kualitas tenaga pendidik, Indonesia dituntut bergerak lebih cepat agar mampu bersaing dengan negara-negara maju. Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia memegang peran strategis dalam menentukan masa depan pendidikan nasional.
Pendidikan di Jawa Timur memiliki kekuatan besar dari sisi jumlah lembaga, jaringan sekolah, pesantren, perguruan tinggi, hingga kultur masyarakat yang menjunjung pentingnya belajar. Kota seperti Surabaya, Malang, Jember, Kediri hingga Banyuwangi tumbuh menjadi pusat pendidikan baru dengan karakter masing-masing. Namun tantangan pemerataan mutu antara kota dan desa masih menjadi pekerjaan rumah serius.
Jika dibandingkan dengan DKI Jakarta, Jawa Timur unggul dalam jumlah institusi pendidikan dan basis sumber daya manusia yang besar. Namun Jakarta masih lebih maju dalam akses teknologi pendidikan, fasilitas sekolah modern, serta kolaborasi dengan dunia industri. Banyak sekolah di Jakarta telah lebih dulu menerapkan sistem digital, pembelajaran berbasis proyek, hingga jaringan internasional.
Sementara dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur memiliki skala yang jauh lebih besar. Namun Yogyakarta tetap dikenal sebagai kota pelajar dengan ekosistem akademik yang matang, biaya pendidikan relatif terjangkau, budaya intelektual kuat, serta atmosfer belajar yang hidup. Kampus-kampus besar dan tradisi diskusi menjadikan Jogja memiliki daya tarik pendidikan nasional yang konsisten.
Adapun jika dikomparasikan dengan Singapura, tantangannya jauh lebih besar. Negara kecil tersebut sukses membangun sistem pendidikan kelas dunia dengan disiplin tinggi, kurikulum adaptif, teknologi mutakhir, dan fokus pada kompetensi masa depan. Meski secara geografis kecil, Singapura menunjukkan bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.
Namun Jawa Timur memiliki modal yang tidak dimiliki banyak wilayah lain: populasi besar, jaringan pesantren terluas di Indonesia, perguruan tinggi ternama, kekuatan vokasi industri, serta dukungan budaya gotong royong masyarakat. Jika seluruh potensi ini disatukan, Jawa Timur sangat mungkin menjadi episentrum pendidikan nasional.
Tema “Menguatkan Partisipasi Semesta” relevan diterapkan di Jawa Timur. Pemerintah daerah perlu mempercepat pemerataan sekolah berkualitas hingga pelosok. Dunia usaha harus dilibatkan dalam pendidikan vokasi dan magang. Perguruan tinggi harus turun tangan membantu inovasi sekolah. Orang tua dan masyarakat perlu kembali menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama.
Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya bukan sekadar seremoni upacara tahunan. Ini adalah pengingat bahwa masa depan bangsa ditentukan di ruang kelas hari ini. Jawa Timur punya peluang besar menjadi lokomotif pendidikan Indonesia, asalkan kualitas, pemerataan, dan kolaborasi menjadi prioritas utama.
Jika Jakarta unggul fasilitas, Jogja unggul kultur akademik, dan Singapura unggul sistem, maka Jawa Timur bisa unggul lewat kekuatan kolaborasi semesta. Saat semua pihak bergerak bersama, pendidikan bermutu untuk semua bukan lagi slogan, tetapi kenyataan. (int)