Namun perkembangan terbaru menunjukkan adanya secercah harapan. Pada 14 Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan damai yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian konflik bersenjata. Kabar tersebut langsung disambut positif pasar global. Harga minyak yang sebelumnya melonjak mulai terkoreksi lebih dari 4 persen. Brent turun ke kisaran US$83 per barel, sedangkan WTI bergerak di sekitar US$80 per barel.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir. Kesepakatan damai masih membutuhkan implementasi dan pengawasan ketat, sementara ketegangan antaraktor di kawasan tersebut tetap berpotensi memicu gejolak baru.
Bagi Indonesia, stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan energi nasional. Setiap gangguan terhadap jalur distribusi minyak dunia hampir selalu berdampak pada harga energi domestik, nilai tukar rupiah, hingga inflasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
(int)