SURABAYA, PustakaJC.co - Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran sepanjang Juni 2026 mengguncang pasar energi dunia. Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah Iran menutup Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah global melonjak tajam dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi pintu keluar masuk sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Gangguan di jalur tersebut langsung memicu kepanikan pasar karena berpotensi menghambat distribusi energi ke berbagai negara, termasuk Asia yang menjadi salah satu konsumen terbesar minyak dunia.
Akibat eskalasi konflik, harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$95 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di atas US$92 per barel. Kenaikan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang tahun ini dan mencerminkan tingginya kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan global.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia menjadi tantangan tersendiri. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dan bahan bakar, kenaikan harga minyak mentah berpotensi meningkatkan beban subsidi energi sekaligus menekan anggaran negara.
Meski demikian, hingga pertengahan Juni 2026 pemerintah memastikan pasokan BBM nasional masih dalam kondisi aman dan terkendali. Harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar juga masih dipertahankan guna menjaga daya beli masyarakat serta menahan laju inflasi. Sementara itu, BBM non-subsidi tetap berpotensi mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan harga minyak global.
Ekonom menilai dampak terbesar dari konflik tersebut bukan hanya pada harga BBM, tetapi juga biaya logistik dan transportasi. Jika harga energi bertahan tinggi dalam jangka panjang, biaya produksi berbagai sektor industri dapat meningkat dan berimbas pada kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan adanya secercah harapan. Pada 14 Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan damai yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian konflik bersenjata. Kabar tersebut langsung disambut positif pasar global. Harga minyak yang sebelumnya melonjak mulai terkoreksi lebih dari 4 persen. Brent turun ke kisaran US$83 per barel, sedangkan WTI bergerak di sekitar US$80 per barel.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir. Kesepakatan damai masih membutuhkan implementasi dan pengawasan ketat, sementara ketegangan antaraktor di kawasan tersebut tetap berpotensi memicu gejolak baru.
Bagi Indonesia, stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan energi nasional. Setiap gangguan terhadap jalur distribusi minyak dunia hampir selalu berdampak pada harga energi domestik, nilai tukar rupiah, hingga inflasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
(int)