SURABAYA, PustakaJC.co - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan batu bara terbesar di dunia. Namun ironi justru muncul ketika pasokan energi primer melimpah, sementara sejumlah wilayah mengalami gangguan pasokan listrik dan pemadaman bergilir.
Persoalan ini mengemuka setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap adanya kekurangan kontrak pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik milik PT PLN (Persero). Dari total kebutuhan sekitar 154 juta ton batu bara pada 2026, baru sekitar 134 juta ton yang telah terikat kontrak.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin negara dengan produksi batu bara ratusan juta ton per tahun justru menghadapi ancaman gangguan pasokan listrik?
Menurut berbagai analisis sektor energi, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan cadangan batu bara, melainkan pada tata kelola distribusi, kualitas batu bara yang dibutuhkan pembangkit, serta sinkronisasi data antara regulator dan pelaku industri.