Selain menjadi pusat ekonomi dan budaya, Jalan Tunjungan juga menyimpan catatan sejarah perjuangan bangsa. Di sinilah berdiri Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), tempat terjadinya Insiden Perobekan Bendera Belanda pada 19 September 1945. Aksi heroik tersebut menjadi simbol keberanian arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kini, Tunjungan terus bertransformasi menjadi ruang urban berkarakter kuat. Melalui Tunjungan Romansa, pemerintah kota berupaya menghidupkan kembali suasana nostalgik dengan sentuhan modern tanpa menghapus nilai historisnya.
Jalan Tunjungan bukan sekadar jalan—ia adalah ruang publik yang menyatukan sejarah, identitas, kebanggaan, dan dinamika zaman bagi warga Surabaya. (int)