Asal-usul Jalan Tunjungan, Ikon Kota Surabaya yang Penuh Sejarah

komunitas | 07 November 2025 09:53

Asal-usul Jalan Tunjungan, Ikon Kota Surabaya yang Penuh Sejarah
Dok infosby

SURABAYA, PustakaJC.co - Jalan Tunjungan bukan sekadar ruas jalan biasa. Kawasan ini menjadi ikon Kota Surabaya yang sarat dengan sejarah, gaya hidup, hingga pusat kreativitas. Kini dikenal dengan konsep wisata Tunjungan Romansa, kawasan ini kembali menjadi tempat nongkrong favorit anak muda, wisatawan, hingga pelaku seni.

 

Jalan yang menghubungkan pusat kota ini memadukan bangunan kolonial tempo dulu dengan sentuhan modern. Suasananya kian hidup dengan hadirnya UMKM, kafe, restoran, dan berbagai agenda seni yang rutin berlangsung di akhir pekan.

 

Tak hanya cantik dilihat, Jalan Tunjungan menyimpan kisah perjalanan panjang Surabaya sejak masa kolonial, kemerdekaan, hingga era modern yang dinamis.

 

Asal-usul nama “Tunjungan” memiliki beberapa versi. Salah satu yang paling populer menyebut bahwa kata tersebut berasal dari “tanjungan” atau “tanjung”, yang merujuk pada bentuk daratan yang menjorok ke arah sungai pada zaman dahulu. Daerah tersebut sering menjadi tempat berlabuhnya perahu, sehingga seiring waktu berubah pelafalan menjadi “Tunjungan”.

 

Ada pula versi yang menyebut kata “Tunjungan” berasal dari kata “tuntunan” atau petunjuk arah. Hal ini selaras dengan fungsi jalannya di masa lalu sebagai akses utama menuju pusat kota Surabaya.

 

Sejak awal abad ke-20, kawasan ini mulai berkembang sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya masyarakat kota.

 

Perkembangan Jalan Tunjungan sebagai pusat gaya hidup modern erat kaitannya dengan keberadaan societeit atau klub sosial kalangan Eropa. Salah satunya adalah Simpangsche Societeit yang berdiri pada tahun 1907, menjadi ruang berkumpul, berdiskusi, hingga menikmati hiburan bergaya kolonial.

 

Keberadaan klub elit tersebut mendorong munculnya restoran, butik, dan toko mode mewah. Di antaranya adalah Restoran Hellendoorn yang pada masa itu menjadi simbol kemewahan dan prestise.

 

Gaya hidup glamor yang berkembang saat itu menjadikan Jalan Tunjungan sebagai trendsetter mode dan interaksi sosial, jauh sebelum konsep lifestyle street populer seperti sekarang.

 

Selain menjadi pusat ekonomi dan budaya, Jalan Tunjungan juga menyimpan catatan sejarah perjuangan bangsa. Di sinilah berdiri Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), tempat terjadinya Insiden Perobekan Bendera Belanda pada 19 September 1945. Aksi heroik tersebut menjadi simbol keberanian arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

Kini, Tunjungan terus bertransformasi menjadi ruang urban berkarakter kuat. Melalui Tunjungan Romansa, pemerintah kota berupaya menghidupkan kembali suasana nostalgik dengan sentuhan modern tanpa menghapus nilai historisnya.

 

Jalan Tunjungan bukan sekadar jalan—ia adalah ruang publik yang menyatukan sejarah, identitas, kebanggaan, dan dinamika zaman bagi warga Surabaya. (int)