SURABAYA, PustakaJC.co - Aktivitas pasar saham domestik memasuki pekan ini dengan tekanan yang cukup kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Senin (6/4/2026) tercatat melemah 25,22 poin atau sekitar 0,36 persen ke level 7.001,56. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada pekan sebelumnya yang ditutup di level 7.026.
Tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pelaku pasar. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang membuka kemungkinan serangan terhadap Iran mendorong investor global beralih ke aset safe haven, sehingga pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan jual.
Sementara itu, dari dalam negeri, kebijakan peningkatan campuran biodiesel menjadi B50 turut memunculkan kekhawatiran baru. Program yang diumumkan oleh Airlangga Hartarto ini dinilai berpotensi mengalihkan pasokan CPO secara signifikan ke sektor energi. Dampaknya, harga minyak goreng berisiko naik dan memicu inflasi, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat serta kinerja sektor konsumsi.
Selain itu, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperbesar risiko inflasi domestik. Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia yang menembus USD100 per barel berpotensi membebani anggaran negara, khususnya pada sektor subsidi energi.
Dalam situasi tersebut, analis memproyeksikan pergerakan IHSG masih cenderung melemah dalam jangka pendek, dengan kisaran support di level 6.700 dan resistance di 7.250. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan nilai tukar rupiah serta harga minyak global sebagai indikator utama arah pasar. (frcn)