Dunia Kerja Berubah, Kompetensi Kini Lebih Dilirik daripada Sekadar Ijazah

komunitas | 03 Juni 2026 07:46

Dunia Kerja Berubah, Kompetensi Kini Lebih Dilirik daripada Sekadar Ijazah
Sejumlah pelamar kerja mengantre untuk mengikuti proses seleksi di sebuah perusahaan. (dok kompas)

SURABAYA, PustakaJC.co – Perubahan besar sedang terjadi di dunia kerja global. Jika selama puluhan tahun ijazah menjadi syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan, kini banyak perusahaan mulai mengutamakan keterampilan dan kemampuan nyata yang dimiliki calon pekerja.

 

Pandangan tersebut disampaikan Sukarijanto, CEO PT Cipta Segara Internasional sekaligus kandidat doktor School of Leadership Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, dalam artikel opini yang dimuat Kompas.com, Selasa, (2/6/2026).

 

Menurutnya, gelar akademik masih memiliki nilai penting, namun tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Perusahaan kini lebih fokus pada kompetensi yang dapat dibuktikan melalui pengalaman, portofolio, dan kemampuan menyelesaikan pekerjaan.

 

“Yang sedang terjadi bukanlah kematian gelar, melainkan perubahan posisi gelar dalam sistem perekrutan modern,” tulis Sukarijanto.

 

 

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat membuat kebutuhan industri berubah lebih cepat dibandingkan kemampuan institusi pendidikan dalam memperbarui kurikulum. Akibatnya, muncul kesenjangan antara materi yang diajarkan di kampus dan kebutuhan nyata di dunia kerja.

 

Dalam bidang teknologi digital, misalnya, perusahaan lebih tertarik melihat kemampuan kandidat dalam mengembangkan aplikasi, mengelola data, atau memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dibandingkan sekadar melihat asal universitas atau indeks prestasi akademik.

 

Data yang dikutip dalam artikel tersebut menunjukkan sekitar 86 persen perusahaan di Amerika Serikat kini menilai keterampilan lebih penting dibandingkan gelar formal dalam proses rekrutmen. Selain itu, kebutuhan terhadap gelar universitas pada pekerjaan berbasis kecerdasan buatan mengalami penurunan, sementara permintaan terhadap keterampilan AI terus meningkat.

 

Meski demikian, Sukarijanto menegaskan bahwa pendidikan tinggi tetap memiliki peran strategis. Kampus tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, kemampuan analitis, etika profesional, serta kemampuan menyelesaikan persoalan yang kompleks.

 

Ia menilai kesalahan yang sering muncul adalah anggapan bahwa gelar secara otomatis menjamin kompetensi seseorang. Padahal, dunia kerja modern semakin menuntut bukti kemampuan yang dapat diterapkan secara nyata.

 

Di Indonesia, fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan sarjana setiap tahun, sementara dunia usaha masih mengeluhkan sulitnya menemukan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada jumlah lulusan, melainkan kualitas dan relevansi kompetensi yang dimiliki.

 

 

 

Perkembangan ekonomi digital juga membuka peluang baru bagi tenaga kerja. Seorang desainer grafis atau programmer kini dapat bekerja untuk perusahaan luar negeri tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Banyak perusahaan global bahkan lebih mengutamakan portofolio digital dibandingkan riwayat pendidikan formal.

 

Sukarijanto menekankan bahwa gelar dan kompetensi tidak perlu dipertentangkan. Menurutnya, keduanya justru harus berjalan beriringan untuk menghadapi tantangan dunia kerja masa depan.

 

“Gelar memberikan fondasi intelektual, sedangkan kompetensi memberikan bukti kemampuan praktis. Gelar menjadi titik awal, bukan garis akhir,” kutipnya.

 

Ia menutup tulisannya dengan menegaskan bahwa masa depan akan lebih berpihak kepada mereka yang mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan seseorang. (ivan)