Endy menjelaskan bahwa koperasi memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai sektor ekonomi, tidak hanya terbatas pada usaha simpan pinjam. Di sejumlah negara maju, koperasi bahkan menjadi salah satu kekuatan utama dalam sektor produksi, konsumsi, pertanian hingga perbankan.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar koperasi saat ini adalah membangun kepercayaan dan partisipasi anggota. Keberhasilan koperasi sangat ditentukan oleh keterlibatan anggota dalam mengembangkan usaha yang dimiliki secara bersama.
Jawa Timur sendiri dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan koperasi. Beberapa koperasi besar seperti Koperasi Petrokimia, Koperasi Semen Indonesia, Koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat, hingga Koperasi Sidogiri telah menunjukkan bahwa koperasi mampu berkembang menjadi entitas ekonomi yang kuat dan berdaya saing.
Sementara itu, Koordinator Mata Kuliah Etika Bisnis dan Creating Shared Value Universitas Airlangga, Gancar Candra Premananto, menilai transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Menurutnya, perkembangan teknologi, tekanan ekonomi global, serta perubahan perilaku konsumen menuntut koperasi untuk segera berbenah.
"Kalau kita tidak ikut beradaptasi, maka kita akan ditinggalkan oleh konsumen. Oleh karena itu modernisasi dan transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," ujarnya.
Transformasi yang dilakukan berbagai koperasi, termasuk K3PG, menjadi bukti bahwa koperasi dapat berkembang menjadi organisasi yang modern dan adaptif tanpa meninggalkan tujuan utamanya, yakni meningkatkan kesejahteraan anggota. (nov)