Warga Jatim Wajib Tahu! Sesar Aktif Membentang dari Surabaya hingga Banyuwangi, Ini Daerah yang Perlu Waspada

komunitas | 19 Juni 2026 17:57

Warga Jatim Wajib Tahu! Sesar Aktif Membentang dari Surabaya hingga Banyuwangi, Ini Daerah yang Perlu Waspada
Dok detik jatim

SURABAYA, PustakaJC.co - Jawa Timur ternyata menyimpan sejumlah sesar aktif yang membentang dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, Madura, Pasuruan, Probolinggo hingga Banyuwangi. Keberadaan patahan aktif tersebut menjadi salah satu sumber potensi gempa bumi yang perlu dipahami masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.

 

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), jumlah segmen sesar aktif di Pulau Jawa meningkat dari 36 segmen pada peta tahun 2017 menjadi 82 segmen pada pemutakhiran tahun 2024.

 

Namun para ahli menegaskan, bertambahnya jumlah sesar yang terpetakan bukan berarti frekuensi gempa akan semakin sering terjadi. Penambahan tersebut menunjukkan semakin detailnya penelitian dan identifikasi terhadap sumber-sumber gempa yang sebelumnya belum terpetakan.

 

Sesar merupakan retakan atau patahan pada kerak bumi yang masih aktif bergerak. Pergerakan tersebut dapat berlangsung sangat lambat selama ratusan hingga ribuan tahun, namun sewaktu-waktu mampu melepaskan energi besar dalam bentuk gempa bumi.

 

Salah satu sistem sesar yang paling dikenal di Jawa Timur adalah Sesar Kendeng atau bagian dari sistem Java Back-arc Thrust (JBT). Jalur sesar ini membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur dan melintasi sejumlah kawasan padat penduduk.

 

Beberapa segmen penting dalam sistem tersebut antara lain Sesar Surabaya, Sesar Waru, Sesar Cepu, Sesar Pandan, Sesar Drenges hingga Sesar Situbondo.

 

Hasil kajian menunjukkan Sesar Surabaya memiliki potensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,7. Sedangkan Sesar Waru yang melintasi kawasan Surabaya dan Sidoarjo diperkirakan mampu memicu gempa hingga magnitudo 6,8.

 

Selain Sesar Kendeng, Jawa Timur juga memiliki Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) yang membentang dari wilayah utara Jawa Timur hingga Kepulauan Kangean.

 

Zona sesar ini mencakup sejumlah segmen seperti Sesar Bojonegoro, Tuban, Sumenep, Baliga, Brakas, Mandangin hingga Somorkoning di Pulau Madura.

 

Berdasarkan penelitian terbaru, Sesar Somorkoning diperkirakan pernah aktif pada abad ke-17 dan memiliki potensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,5.

 

Di wilayah timur Jawa Timur, aktivitas sesar aktif juga ditemukan di kawasan Pasuruan, Probolinggo hingga Banyuwangi.

 

Sesar Pasuruan misalnya diperkirakan mampu menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,4 dan tercatat telah mengalami beberapa kali pergerakan permukaan dalam kurun ribuan tahun terakhir.

 

Sementara itu, Sesar Probolinggo memiliki potensi gempa sekitar magnitudo 6,1 dan Sesar Wongsorejo di Banyuwangi diperkirakan dapat menghasilkan gempa hingga magnitudo 5,9.

 

Selain ancaman dari sesar darat, Jawa Timur juga berada di bawah pengaruh zona megathrust selatan Jawa yang merupakan pertemuan lempeng tektonik di Samudra Hindia.

 

Para peneliti memperkirakan segmen megathrust selatan Jawa Timur memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,8 sampai 8,9. Bahkan jika beberapa segmen bergerak bersamaan, kekuatannya dapat mencapai magnitudo 9,1.

 

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa bumi akan terjadi.

 

Karena itu, informasi mengenai sesar aktif lebih ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dibanding menimbulkan kepanikan.

 

Sejumlah gempa besar pernah terjadi di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Di antaranya gempa dan tsunami Banyuwangi tahun 1994 berkekuatan magnitudo 7,8, gempa Malang tahun 2021 berkekuatan magnitudo 6,1, gempa Bawean tahun 2024 berkekuatan magnitudo 6,5, gempa Sumenep tahun 2025 berkekuatan magnitudo 6,0, hingga gempa Pacitan tahun 2026 berkekuatan magnitudo 6,4.

 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemahaman risiko bencana, memastikan bangunan memenuhi standar tahan gempa, menyiapkan tas siaga bencana, memahami jalur evakuasi serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB.

 

Dengan mengenali keberadaan sesar aktif di sekitar wilayah tempat tinggal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi potensi bencana sekaligus mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian akibat gempa bumi di masa mendatang.

(int)