Selain ancaman dari sesar darat, Jawa Timur juga berada di bawah pengaruh zona megathrust selatan Jawa yang merupakan pertemuan lempeng tektonik di Samudra Hindia.
Para peneliti memperkirakan segmen megathrust selatan Jawa Timur memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,8 sampai 8,9. Bahkan jika beberapa segmen bergerak bersamaan, kekuatannya dapat mencapai magnitudo 9,1.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa bumi akan terjadi.
Karena itu, informasi mengenai sesar aktif lebih ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dibanding menimbulkan kepanikan.
Sejumlah gempa besar pernah terjadi di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Di antaranya gempa dan tsunami Banyuwangi tahun 1994 berkekuatan magnitudo 7,8, gempa Malang tahun 2021 berkekuatan magnitudo 6,1, gempa Bawean tahun 2024 berkekuatan magnitudo 6,5, gempa Sumenep tahun 2025 berkekuatan magnitudo 6,0, hingga gempa Pacitan tahun 2026 berkekuatan magnitudo 6,4.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemahaman risiko bencana, memastikan bangunan memenuhi standar tahan gempa, menyiapkan tas siaga bencana, memahami jalur evakuasi serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB.
Dengan mengenali keberadaan sesar aktif di sekitar wilayah tempat tinggal, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi potensi bencana sekaligus mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian akibat gempa bumi di masa mendatang.
(int)