SURABAYA, PustakaJC.co - Program Kakak Tangguh yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi melalui beasiswa, tetapi juga mendorong lahirnya mahasiswa yang mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Program yang diluncurkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Senin (22/6/2026), menghadirkan paradigma baru bahwa pendidikan tinggi harus mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial dan pembangunan masyarakat.
Melalui Program Kakak Tangguh, mahasiswa tidak lagi hanya diposisikan sebagai pencari ilmu yang berkutat di ruang kuliah dan laboratorium. Mereka juga didorong menjadi mentor, pendamping, inspirator, sekaligus penggerak perubahan sosial di lingkungan sekitarnya.
"Mahasiswa tidak lagi hanya hadir sebagai pembelajar di ruang kuliah, tetapi juga sebagai pendamping, mentor, inspirator, dan penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat," kata Khofifah.
Menurutnya, program tersebut dirancang tidak hanya menyediakan akses beasiswa bagi puluhan ribu mahasiswa, tetapi juga menghadirkan sistem pendampingan yang menghubungkan dunia kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan keluarga, penguatan usaha mikro keluarga, literasi keuangan, hingga pengembangan kapasitas masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang selama ini menjadi fondasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dalam satu gerakan sosial yang terukur dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Khofifah juga menyoroti tantangan dunia pendidikan saat ini, khususnya tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Karena itu, perguruan tinggi didorong untuk memperkuat pendekatan link and match antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.
"Kampus harus mampu menjadi pusat pengembangan talenta sekaligus laboratorium solusi bagi berbagai persoalan pembangunan daerah," ujarnya.
Lebih lanjut, Program Kakak Tangguh dibangun melalui model kolaborasi Tri Helix yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif, kepemimpinan sosial, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Jika berjalan optimal, Program Kakak Tangguh diyakini tidak hanya melahirkan sarjana berkualitas, tetapi juga generasi muda yang mampu menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga, lingkungan, dan daerahnya.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ijazah yang dihasilkan, melainkan sejauh mana ilmu pengetahuan mampu memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat luas.
(int)