Pada Triwulan I 2026, perekonomian Jawa Timur tercatat tumbuh sebesar 5,96 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali. Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha maupun calon investor.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan nilai investasi, melainkan memastikan investasi yang masuk mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah.
“Investasi merupakan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sekaligus fondasi bagi penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, investasi ke depan harus mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat hilirisasi industri, membuka lapangan kerja yang lebih luas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan investasi yang berkualitas harus berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan, peningkatan daya saing daerah, dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemprov Jatim terus mempercepat penyelesaian berbagai program strategis, di antaranya penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), Lahan Baku Sawah (LBS), dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) sebagai upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan.