KH Miftachul Akhyar Diusulkan Lagi Jadi Rais Aam PBNU, Ini Alasannya

komunitas | 28 Agustus 2026 18:36

KH Miftachul Akhyar Diusulkan Lagi Jadi Rais Aam PBNU, Ini Alasannya
KH Miftahul Akhyar Rais Aam PBNU saat menyampaikan khutbah iftitah dalam rangkaian Munas dan Konbes NU 2026. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Dukungan agar KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali disuarakan. Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar, menilai KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU.

 

“Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU,” kata M. Ridwan Butar-Butar, Jumat, (28/8/2026).

 

Menurutnya, KH Miftachul Akhyar merupakan sosok yang mampu melanjutkan marwah Syuriyah di abad kedua NU sekaligus menjaga otoritas ulama di tengah derasnya dinamika politik praktis. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (28/8/2026).

 

Ridwan juga menyoroti perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar yang telah dibangun sejak usia dini. Sanad keilmuannya disebut terbangun sejak usia delapan tahun ketika belajar di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

 

Perjalanan tersebut kemudian berlanjut di Pesantren Rejoso (Darul Ulum), Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, serta melalui majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

 

 

Selain kapasitas keilmuan, integritas KH Miftachul Akhyar juga dinilai menjadi alasan penting untuk kembali dipercaya memimpin Syuriyah PBNU.

 

Ridwan menyebut keputusan KH Miftachul Akhyar mundur dari jabatan Ketua Umum MUI pada 2022 menjadi salah satu contoh komitmennya untuk berkhidmah tanpa rangkap jabatan.

 

Menurut Ridwan, sikap tersebut menunjukkan komitmen KH Miftachul Akhyar dalam menjaga amanah organisasi tanpa membawa kepentingan lain.

 

Ia juga menyinggung peran KH Miftachul Akhyar ketika NU menghadapi persoalan kepemimpinan. Dalam situasi tersebut, menurutnya, KH Miftachul Akhyar menegaskan kembali otoritas Syuriyah.

 

Keputusan yang didukung 36 pengurus wilayah tersebut kemudian membawa pelaksanaan Muktamar dipercepat dan berlangsung dengan tertib. KH Miftachul Akhyar juga disebut berperan sebagai perekat dengan memimpin istighosah yang diikuti ribuan nahdliyin menjelang Muktamar.

 

Pengabdian KH Miftachul Akhyar juga disebut mendapat pengakuan dari negara. Pada 2025, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden.

 

 

Ridwan menilai pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan bahwa kepemimpinan NU di abad kedua membutuhkan Rais Aam yang mampu berdiri independen dari kepentingan politik praktis.

 

“Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut,” pungkasnya. (ivan)