SURABAYA, PustakaJC.co – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim resmi memperluas fungsi strategi Kelompok Usaha Bank (KUB). Tidak lagi sebatas pemenuhan penguatan modal, integrasi ini kini diarahkan pada ekspansi dan integrasi bisnis secara menyeluruh.
Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, mengungkapkan bahwa pemenuhan aspek permodalan Bank Pembangunan Daerah (BPD) anggota telah terlampaui seiring masuknya Bank Jatim sebagai pemegang saham. Hal itu disampaikan dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu, (9/9/2026).
“Melalui privilese tersebut menjadi entry point bagi Bank Jatim untuk melakukan sinergi,” ujar Winardi, dikutip dari antara.
Menurutnya, sinergi ini memberikan ruang luas bagi perseroan untuk memetakan rencana bisnis, aksi korporasi, hingga optimalisasi sistem informasi pada BPD anggota KUB. Beberapa fokus kerja sama operasional yang tengah dikembangkan mencakup:
- Bisnis Remitansi: Peningkatan volume transaksi internasional.
- Safekeeping Custodian: Layanan transaksi surat berharga.
- Joint Services E-Channel: Pengembangan sistem pembayaran, termasuk digitalisasi layanan di rumah sakit daerah.
Saat ini, anggota KUB Bank Jatim meliputi BPD Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Banten, Lampung, dan Sulawesi Tenggara. Seluruh sinergi bisnis tersebut dijalankan secara simultan dengan memperhitungkan analisis potensi daerah serta cost and benefit.
Kinerja Keuangan Meroket
Penguatan strategi KUB ini berdampak positif terhadap performa finansial perseroan. Hingga triwulan II-2026, Bank Jatim membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,2 triliun, melonjak 53,4 persen secara year-on-year (yoy).
Kinerja keuangan Bank Jatim triwulan II-2026:
|
Indikator Finansial |
Capaian (Triwulan II-2026) |
Pertumbuhan (YoY) |
|
Laba Bersih Konsolidasi |
Rp1,2 Triliun |
53,4% |
|
Total Aset Konsolidasi |
Rp162 Triliun |
37,16% |
|
Penyaluran Kredit |
Rp111 Triliun |
41,68% |
|
Dana Pihak Ketiga (DPK) |
Rp120 Triliun |
31,47% |
|
Pendapatan Bunga Bersih |
Rp4,6 Triliun |
39,5% |
Pertumbuhan aset produktif yang signifikan, terutama pada penyaluran kredit dan penghimpunan DPK, menjadi penopang utama melonjaknya pendapatan bunga bersih perseroan pada pertengahan tahun 2026. (ivan)