Ramadan Baru Dimulai, Harga Ayam dan Cabai di Gresik Melonjak Tajam

gresik | 21 Februari 2026 18:26

Ramadan Baru Dimulai, Harga Ayam dan Cabai di Gresik Melonjak Tajam
Pedagang pasar tradisional Gresik saat menjajakan dagangannya. (dok gresiksatu)

 

 

GRESIK, PustakaJC.co – Awal Ramadan 1447 Hijriah langsung diwarnai lonjakan harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Gresik. Kenaikan paling mencolok terjadi pada daging ayam ras dan cabai merah keriting dalam sepekan terakhir.

 

Harga daging ayam ras yang sebelumnya berada di kisaran Rp28.733 per kilogram kini melonjak tajam menjadi Rp41.000 per kilogram. Sementara cabai merah keriting naik dari Rp40.000 menjadi Rp48.333 per kilogram, bahkan lebih tinggi di beberapa lapak. Dilansir dari gresiksatu.com, Sabtu, (21/2/2026).

 

Kenaikan ini membuat pembeli terkejut dan mulai menyesuaikan pola belanja. Siti, salah satu pedagang pasar tradisional di Gresik, mengatakan lonjakan harga terjadi sangat cepat.

 

“Naiknya cepat sekali, pembeli jadi kaget. Baru beberapa hari lalu masih normal,” ujarnya, Sabtu, (21/2/2026).

 

 

 

Tak hanya ayam dan cabai, harga bawang merah juga naik dari Rp41.666 menjadi Rp43.333 per kilogram. Sedangkan bawang putih meningkat dari Rp34.333 menjadi Rp35.333 per kilogram.

 

Pedagang menyebut kenaikan dipicu oleh berkurangnya pasokan dari peternak dan petani, sementara permintaan meningkat signifikan selama Ramadan. Distribusi dari luar daerah juga disebut terganggu akibat faktor cuaca, sehingga harga kulakan di tingkat distributor ikut naik.

 

Dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Erni, warga Kelurahan Bedilan, mengaku terpaksa mengurangi jumlah pembelian.

 

“Biasanya beli satu kilo ayam, sekarang setengah kilo saja. Cabai juga dikurangi,” katanya.

 

 

 

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik, Darmawan, membenarkan adanya kenaikan signifikan pada sejumlah komoditas.

 

“Memang ada kenaikan terutama pada daging ayam ras dan cabai merah keriting karena permintaannya tinggi di bulan Ramadan,” ujarnya.

 

Pemerintah daerah, lanjut Darmawan, akan terus memantau perkembangan harga. Jika lonjakan terus berlanjut, opsi operasi pasar akan dipertimbangkan, meski saat ini belum memungkinkan karena harus melalui koordinasi lintas sektor.

 

Lonjakan harga ini menjadi sinyal awal potensi tekanan inflasi pangan selama Ramadan, sekaligus menjadi perhatian pemerintah agar stabilitas pasokan dan harga tetap terjaga. (ivan)