SURABAYA, PustakaJC.co – Limbah yang selama ini identik sebagai sisa produksi kini berubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Inovasi yang ditampilkan PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) dan PT Dowa Eco-System Indonesia (DESI) dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 di kawasan Smelter PT Freeport Indonesia, Gresik, menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat menjadi bagian penting dalam mendorong ekonomi sirkular sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Mengusung tema "Be the Solution, Not Pollution: Recycle and Conserve", kedua perusahaan memperkenalkan berbagai teknologi pengolahan limbah yang mampu mengubah material sisa industri menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kegiatan tersebut mendapat perhatian pemerintah daerah, pelaku industri, dan berbagai pemangku kepentingan yang hadir di kawasan industri PT Freeport Indonesia di KEK JIIPE Gresik.
Wakil Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Jepino Ngabdi, mengatakan penerapan prinsip pemanfaatan sampah dan limbah tidak hanya mampu mengurangi dampak terhadap lingkungan, tetapi juga mendukung terbentuknya ekonomi sirkular melalui proses daur ulang dan pemanfaatan kembali material yang masih bernilai.
Dalam pameran tersebut, PPLI dan DESI memperlihatkan berbagai hasil inovasi pengolahan limbah. Salah satunya, limbah desalination sludge diolah menjadi material substitusi untuk produk konstruksi berkelanjutan. Sementara sampah domestik pabrik diproses menjadi kompos, pelet, briket energi, media tanam, hingga pakan ikan, sedangkan limbah kayu dimanfaatkan kembali menjadi produk furnitur yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Perwakilan PT DESI, Farid Ardiyansyah, menjelaskan kolaborasi tersebut bertujuan membuktikan bahwa limbah bukan sekadar material yang harus dikelola sesuai regulasi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai melalui konsep ekonomi sirkular.
Konsep serupa sebenarnya telah diterapkan PT Freeport Indonesia melalui Pusat Transformasi Bersama (PTB) sejak pembangunan smelter berlangsung. Berbagai limbah konstruksi seperti besi bekas, kayu, hingga material sisa pembangunan dipilah, didaur ulang, dan diubah menjadi berbagai produk mebel serta perlengkapan yang memiliki nilai tambah sekaligus memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyambut baik berbagai inovasi tersebut. Menurutnya, transformasi industri harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan sehingga pembangunan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Gresik juga terus mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah melalui berbagai inovasi, termasuk digitalisasi layanan persampahan.
Melalui sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, kawasan industri Gresik diharapkan menjadi contoh penerapan industri hijau yang mampu mengurangi timbulan limbah sekaligus menciptakan produk-produk baru bernilai ekonomi. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan dan memperkuat daya saing industri nasional di masa depan.
(int)