Tiga Kecamatan di Gresik Jadi Prioritas Pembangunan Kolam Retensi

gresik | 19 Agustus 2026 07:54

Tiga Kecamatan di Gresik Jadi Prioritas Pembangunan Kolam Retensi
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co — Pemerintah Kabupaten Gresik mulai memetakan wilayah yang terdampak kekeringan seiring masuknya musim kemarau. Sejumlah langkah disiapkan untuk menjaga ketersediaan air, terutama bagi kebutuhan lahan pertanian di wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

 

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, pemetaan dilakukan untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan penanganan serta menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Dilansir dari gresiksatu.com, Rabu, (19/8/2026).

 

“Kita terus memetakan upaya terkait dengan kekeringan yang mulai melanda di Kabupaten Gresik, khususnya para petani,” kata Fandi Akhmad Yani, Selasa, (18/8/2026).

 

 

Menurutnya, Pemkab Gresik menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk membantu petani memperoleh pasokan air. Upaya tersebut di antaranya melalui penggunaan pompa, pemanfaatan sumber mata air, pembuatan sumur bor, hingga pemasangan jaringan pipanisasi.

 

Pemkab Gresik juga telah meminta Dinas Pertanian Kabupaten Gresik melakukan identifikasi kebutuhan dan menentukan titik-titik lahan yang memerlukan intervensi.

 

“Semoga bisa kita bantu, baik itu mulai pompa sumber mata air, kemudian dibor dan dipompa serta pipanisasi. Ini yang sedang kita tugaskan untuk Dinas Pertanian Kabupaten Gresik,” ujarnya.

 

 

Selain penanganan jangka pendek, Pemkab Gresik menyiapkan pembangunan embung atau kolam retensi sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air, khususnya bagi sektor pertanian.

 

Fandi menyebut tiga kecamatan menjadi prioritas pembangunan kolam retensi. Ketiganya yakni Kecamatan Kedamean, Balongpanggang, dan Benjeng.

 

“Yang pernah saya sampaikan terkait dengan embung yang sangat dibutuhkan mulai dari Kecamatan Kedamean, kemudian Balongpanggang serta Benjeng. Tiga kecamatan ini yang membutuhkan kolam retensi,” jelasnya.

 

Sebelumnya, Pemkab Gresik telah membangun kolam retensi di wilayah Cerme, tepatnya di kawasan Tambak Beras. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam menampung dan mengelola ketersediaan air.

 

 

 

Menurut Fandi, konsep serupa dapat diterapkan di wilayah lain yang memiliki kebutuhan air cukup tinggi. Karena itu, pembangunan kolam retensi di tiga kecamatan tersebut terus didorong agar dapat segera direalisasikan.

 

Rencana pembangunan infrastruktur tersebut juga telah disampaikan kepada Menteri Pertanian. Fandi mengatakan, pemerintah pusat memberikan dukungan terhadap rencana tersebut.

 

“Kemarin sudah kami sampaikan ke Pak Mentan dan beliau mendukung, tinggal memang pengurusan surat alih fungsi dan sebagainya yang sedang diproses,” pungkasnya.

 

Pemkab Gresik berharap kombinasi penanganan jangka pendek melalui pompa, sumur bor, sumber mata air, dan pipanisasi serta pembangunan kolam retensi dapat membantu mengurangi dampak kekeringan terhadap petani.

 

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat ketersediaan air untuk pertanian dan mengantisipasi ancaman kekeringan pada musim kemarau berikutnya. (ivan)