GRESIK, PustakaJC.co – Jejak sejarah dan dinamika kehidupan masyarakat Gresik masa lampau yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda, kini mulai terkuak. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpussip) Kabupaten Gresik berhasil mengalihmediakan sedikitnya 11 naskah dan buku kuno bernilai sejarah tinggi untuk melengkapi koleksi referensi daerah.
Proses penelusuran naskah autentik ini membutuhkan kejelian ekstra. Kepala Dinas Perpussip Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, mengungkapkan bahwa pencarian dokumen sejarah di Leiden harus dilakukan secara spesifik berdasarkan judul maupun konten dokumen, bukan sekadar menggunakan kata kunci umum. Dilansir dari gresiksatu.com, Rabu, (7/10/2026).
"Kalau di Leiden itu harus spesifik mencarinya. Kalau keyword-nya hanya Gresik, memang ada buku tentang Gresik di sana. Tapi kita masih belum mengetahui judul bukunya apa," ujar Budi, Selasa, (6/10/2026).
Untuk memboyong kembali rekam jejak sejarah tersebut, Perpussip Gresik mengalokasikan anggaran sekitar Rp50 juta pada tahun 2024 guna membeli koleksi dalam bentuk digital langsung dari Museum Leiden. Dokumen digital tersebut kemudian dicetak ulang agar dapat diakses masyarakat luas di perpustakaan daerah.
Di antara 11 manuskrip yang berhasil dialihmediakan terdapat Naskah Sindujoyo, Naskah Ambiya, hingga naskah khutbah Jumat di Masjid Sunan Giri.
Selain itu, dua literatur penting lainnya yang berhasil didapatkan secara daring adalah buku mengenai perkuburan di kawasan Tanah Gapuro serta Statistik van Java Residentie Gresik.
Buku Statistik van Java Residentie Gresik menyajikan laporan komprehensif era kolonial berbahasa Belanda dan Jawa. Tak hanya catatan tertulis, buku ini memuat dokumentasi visual kehidupan masyarakat era itu, mulai dari peralatan kerja, alat musik, perlengkapan perahu, jaring, celurit, hingga tradisi arak-arakan pernikahan.
Langkah ini diharapkan menjadi pintu pembuka penelitian sejarah berbasis data primer di Kabupaten Gresik.
"Mudah-mudahan bisa menambah wawasan masyarakat Kabupaten Gresik tentang Gresik sebagai kota kuno, kota di era Sunan Giri maupun era Majapahit. Apakah memang ada bukti tertulis yang autentik, itu yang ingin kami gali," tutup Budi. (ivan)