Penyeberangan Bawean Gresik Ditutup Sementara Akibat Cuaca Buruk

gresik | 04 Januari 2026 06:24

Penyeberangan Bawean Gresik Ditutup Sementara Akibat Cuaca Buruk
Penumpang saat turun dari kapal Express Bahari 6F harus kembali ke Gresik lantaran cuaca buruk. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co - Penyeberangan laut Bawean–Gresik ditutup sementara akibat cuaca buruk yang melanda perairan setempat. Dampaknya, ribuan pemudik libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 tertahan di Pulau Bawean dan belum bisa kembali ke Gresik.

 

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tinggi gelombang di perairan Bawean diperkirakan mencapai hingga 2,5 meter pada Sabtu, (3/1/2026). Kondisi tersebut dinilai berbahaya bagi keselamatan pelayaran, khususnya kapal penumpang. Dilansir dari gresiksatu.com, Minggu, (4/1/2026).

 

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Bawean resmi menunda penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) untuk seluruh kapal yang akan berangkat menuju Gresik. Penundaan itu tertuang dalam Pengumuman Nomor AL.820/1/02/UPP.Bwn/2026 tertanggal 2 Januari 2026.

 

Dalam pengumuman tersebut disebutkan, pelayaran baru akan dibuka kembali setelah BMKG menyatakan kondisi cuaca aman dengan tinggi gelombang tidak melebihi dua meter.

 

 

BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya memprakirakan cuaca di perairan Bawean bagian utara hingga Senin (5/1/2026) didominasi hujan ringan hingga hujan petir. Kondisi ini disertai angin berkecepatan 7–14 knot dengan hembusan hingga 22 knot serta tinggi gelombang berkisar 0,5 hingga 2,5 meter.

 

Kepala BMKG Bawean, Usman Kholid, mengatakan peningkatan gelombang mulai terpantau sejak Sabtu pagi.

 

“Diprediksi tinggi gelombang mencapai 2,5 meter dari pagi hingga sore hari. Kondisi ini cukup berisiko untuk pelayaran,” ujarnya.

 

 

Ia menambahkan, BMKG terus melakukan pembaruan data cuaca dan berkoordinasi dengan pihak pelabuhan. 

 

“Jika kondisi sudah dinyatakan aman, biasanya tinggi gelombang tidak sampai dua meter,” jelasnya.

 

Sejalan dengan itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Gresik juga mengeluarkan peringatan cuaca buruk di perairan Gresik dan sekitarnya melalui Pengumuman Nomor PG-KSOP.Gsk 1 Tahun 2026. KSOP mengimbau operator kapal, nahkoda, serta nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem.

 

 

Staf Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Gresik, M. Taufiqur Rahman, mengatakan arus balik penyeberangan Bawean–Gresik sejatinya dijadwalkan mulai Sabtu (3/1/2026). Namun, seluruh pelayaran dipastikan ditunda akibat gelombang tinggi.

 

“Untuk hari Sabtu dipastikan off karena kondisi cuaca belum memungkinkan,” katanya.

 

Penundaan ini berdampak langsung pada ribuan penumpang, termasuk pemudik dari luar negeri yang telah membeli tiket pulang-pergi. 

 

“Banyak penumpang yang tiketnya hangus karena tidak ada kapal yang beroperasi,” pungkasnya.

 

 

Diketahui, kapal cepat lintasan Bawean–Gresik terakhir beroperasi pada Rabu, (31/12/2025), sementara kapal feri terakhir melayani rute Bawean–Paciran pada Selasa malam, (30/12/2025). Data Dinas Perhubungan Gresik mencatat sebanyak 2.382 penumpang melakukan perjalanan selama periode libur Nataru 2026. (ivan)