Kondisi tersebut memunculkan kelelahan sosial. Bukan dalam bentuk kemarahan terbuka, melainkan perubahan nada komunikasi warga yang kini lebih singkat, dingin, dan berhati-hati. Mereka tidak berhenti berbicara, tetapi menunggu bukti nyata.
Di Surabaya, keluhan banyak berkisar pada ketidakteraturan kota yang dirasa stagnan. Di Sidoarjo, perhatian publik tertuju pada persoalan lingkungan hidup dan layanan dasar yang belum tuntas. Sementara di Gresik, kegamangan muncul dari posisi ganda sebagai kawasan industri sekaligus ruang hidup warga yang terdampak aktivitas ekonomi.
Meski demikian, harapan warga justru semakin sederhana. Mereka tidak lagi menuntut kebijakan besar atau figur pemimpin yang heroik. Yang diinginkan adalah lingkungan yang sehat, pelayanan yang konsisten, aturan yang jelas, serta ruang dialog yang jujur dan setara.
Ketika hal-hal mendasar itu tak terpenuhi, yang muncul bukan lagi kemarahan, melainkan diam. Dan diam publik, menurut banyak pengamat sosial, justru menjadi sinyal paling berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi lokal. Kota bisa tetap berjalan, aktivitas ekonomi tetap berlangsung, tetapi jarak emosional antara warga dan pemerintah kian melebar.