Ia menambahkan, penanganan stunting tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix, melibatkan masyarakat, media, akademisi, dan dunia usaha.
Selain itu, Cahyo juga menyoroti perbedaan data prevalensi stunting yang perlu segera disinkronkan agar program penanganan lebih efektif dan tepat sasaran.
Dengan kemampuan fiskal, potensi ekonomi, serta akses layanan publik yang baik, Cahyo menilai Surabaya seharusnya mampu menjadi daerah dengan angka stunting yang sangat rendah.
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Surabaya harus bisa menjadi contoh dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus penghapusan stunting,” ujarnya.
Ia menegaskan, selain intervensi kesehatan, pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat juga menjadi kunci menciptakan generasi sehat dan berdaya saing di masa depan. (ivan)