Reses DPRD Jatim Ungkap Kasus Stunting di Gubeng Kota Surabaya

surabaya | 15 Februari 2026 08:45

Reses DPRD Jatim Ungkap Kasus Stunting di Gubeng Kota Surabaya
Anggota DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, saat melaksanakan kegiatan reses dan berdialog dengan warga di kawasan Gubeng Masjid, Surabaya, terkait temuan kasus stunting dan kondisi kesehatan ibu hamil di wilayah tersebut. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Anggota DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menemukan kasus stunting dan ibu hamil berisiko saat melaksanakan reses di kawasan Gubeng Masjid, Kecamatan Tambak Sari, Surabaya.

 

Temuan tersebut menjadi perhatian serius, mengingat lokasi berada di wilayah perkotaan dengan akses layanan kesehatan dan informasi yang relatif baik. Dilansir dari antaranews.com, Minggu, (15/2/2026).

 

“Di kawasan yang notabene berada di tengah kota, masih ditemukan anak yang masuk kategori stunting dan pra-stunting. Bahkan, terdapat ibu hamil yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Ini menjadi keprihatinan serius bagi kami,” ujar Cahyo, Sabtu,(15/2/2026).

 

 

 

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan masih perlunya penguatan sistem pemantauan kesehatan masyarakat. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar deteksi dini dapat berjalan optimal.

 

Cahyo meminta Dinas Kesehatan Kota Surabaya meningkatkan pendampingan dan monitoring secara intensif, melibatkan kader kesehatan, RT/RW, kelurahan, serta puskesmas.

 

“Monitoring harus dilakukan secara detail dan konkret. Semua pihak perlu dilibatkan agar kondisi masyarakat benar-benar terpantau,” tegasnya.

 

 

 

Ia menambahkan, penanganan stunting tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix, melibatkan masyarakat, media, akademisi, dan dunia usaha.

 

Selain itu, Cahyo juga menyoroti perbedaan data prevalensi stunting yang perlu segera disinkronkan agar program penanganan lebih efektif dan tepat sasaran.

 

Dengan kemampuan fiskal, potensi ekonomi, serta akses layanan publik yang baik, Cahyo menilai Surabaya seharusnya mampu menjadi daerah dengan angka stunting yang sangat rendah.

 

“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Surabaya harus bisa menjadi contoh dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus penghapusan stunting,” ujarnya.

 

 

 

Ia menegaskan, selain intervensi kesehatan, pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat juga menjadi kunci menciptakan generasi sehat dan berdaya saing di masa depan. (ivan)