SURABAYA, PustakaJC.co – Di balik derasnya aliran air yang selama ini menopang kehidupan warga, Surabaya menyimpan ancaman serius yang kerap luput dari perhatian. Kota ini ternyata sangat bergantung pada satu sumber air utama, yakni Sungai Brantas melalui Kali Surabaya.
Lebih dari 90 persen kebutuhan air bersih kota dipasok dari aliran tersebut. Kondisi ini dinilai bukan sekadar ketergantungan biasa, melainkan potensi risiko besar jika terjadi gangguan. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (18/4/2026).
Direktur Eksekutif Pusaka Air Indonesia, Arief Wisnu Cahyono, menegaskan bahwa situasi ini merupakan “titik kegagalan” dalam sistem penyediaan air kota.
Ketika satu sumber terganggu, maka seluruh sistem ikut terdampak. Surabaya belum memiliki ruang adaptasi yang cukup.
Tekanan dari Hulu ke Hilir
Masalah tidak hanya datang dari sisi pasokan, tetapi juga kualitas air. Dalam beberapa tahun terakhir, debit Sungai Brantas mengalami penurunan signifikan. Bahkan pada 2024, inflow Bendungan Sutami tercatat sebagai yang terendah dalam lima tahun terakhir.
Penurunan debit ini berbanding lurus dengan memburuknya kualitas air. Kandungan pencemar seperti amonia, nitrit, dan limbah organik meningkat, membuat proses pengolahan air menjadi lebih sulit dan mahal.
Air yang masuk ke instalasi pengolahan di Surabaya pun merupakan akumulasi dari aktivitas lebih dari 20 wilayah yang dilalui sungai, mulai dari limbah domestik, industri, hingga pertanian.