Pasar Murah Digelar Rutin, Pemkot Surabaya Gaspol Tekan Inflasi Pasca Lebaran

surabaya | 02 April 2026 06:30

Pasar Murah Digelar Rutin, Pemkot Surabaya Gaspol Tekan Inflasi Pasca Lebaran
Dalam satu pekan, pasar murah dijadwalkan berlangsung empat kali, setiap Selasa hingga Jumat. (dok jatimpos)

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota Surabaya tancap gas menjaga stabilitas harga bahan pokok usai Lebaran 2026. Salah satu langkah konkret yang digulirkan adalah program pasar murah di berbagai titik permukiman warga.

 

Program ini mulai berjalan sejak 31 Maret 2026 dan digelar rutin hingga empat kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa sampai Jumat. Sejumlah wilayah telah disasar, mulai dari Kelurahan Ujung, Siwalankerto, hingga Tembok Dukuh. Dilansir dari jatimpos.co, Kamid, (2/4/2026).

 

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya, Mia Santi Dewi, menegaskan bahwa pasar murah menjadi strategi utama untuk menekan inflasi sekaligus mendekatkan akses kebutuhan pokok bagi masyarakat.

 

“Program ini bagian dari upaya menjaga stabilitas harga bahan pokok penting, sekaligus memberi akses harga lebih terjangkau bagi warga,” ujarnya, Rabu, (1/4/2026).

 

 

Dalam program ini, berbagai komoditas dijual di bawah harga pasar, bahkan lebih rendah dari Harga Eceran Tertinggi (HET). Beras premium kemasan 5 kilogram dijual Rp72.000, lebih murah dari harga pasar yang bisa mencapai Rp74.000. Gula pasir juga ditebus Rp17.000 per kilogram, di bawah harga pasaran sekitar Rp18.000.

 

Selain beras dan gula, tersedia pula minyak goreng, telur ayam, daging ayam, hingga komoditas hortikultura seperti cabai merah, bawang merah, dan bawang putih.

 

Pemkot Surabaya juga menyesuaikan pasokan berdasarkan karakteristik wilayah. Di kawasan padat penduduk, jumlah stok ditambah agar kebutuhan warga tetap terpenuhi. Setiap hari, disiapkan sekitar 50 hingga 100 paket untuk komoditas utama.

 

Lokasi pasar murah dipusatkan di titik strategis seperti balai RW, kantor kelurahan, dan kecamatan. Penentuan lokasi dilakukan melalui koordinasi dengan perangkat wilayah agar distribusi merata dan tepat sasaran.

 

 

 

Menariknya, program ini terbuka untuk umum tanpa syarat domisili. Warga luar Surabaya pun diperbolehkan berbelanja tanpa harus menunjukkan KTP.

 

Langkah ini menjadi sinyal kuat komitmen Pemkot Surabaya dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi lonjakan harga pasca hari besar keagamaan. (ivan)