Eks TPA Disulap Jadi Taman Edukasi, Taman Harmoni Jadi Magnet Baru Surabaya

surabaya | 06 April 2026 14:35

Eks TPA Disulap Jadi Taman Edukasi, Taman Harmoni Jadi Magnet Baru Surabaya
Taman Harmoni Keputih di Surabaya. (dok antara)

 

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co – Taman Harmoni Keputih kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang menarik perhatian warga. Dulunya merupakan tempat pembuangan akhir (TPA), kawasan ini disulap menjadi ruang terbuka hijau yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat nilai pembelajaran.

 

Koordinator pengelola, Bagus Ali Rohman, mengatakan taman ini menjadi ruang rekreasi sekaligus sarana edukasi lingkungan, terutama bagi anak-anak dan pelajar. Dilansir dari antrarnews.com, Senin, (6/4/2026).

 

“Taman ini menjadi tempat rekreasi dan sarana edukasi lingkungan, terutama bagi anak-anak dan pelajar yang berkunjung,” ujarnya.

 

 

Ia menjelaskan, pengunjung dari kalangan anak usia dini hingga sekolah dasar kerap datang secara berkelompok. Mereka tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar langsung melalui interaksi dengan ruang terbuka hijau, satwa, serta elemen tematik yang tersedia.

 

Pengunjung juga dikenalkan pada sejarah kawasan yang sebelumnya merupakan TPA Keputih. TPA tersebut beroperasi sejak 1970-an dan ditutup pada 2001, sebelum akhirnya direvitalisasi melalui penanaman bambu untuk menyerap gas metana, dilanjutkan pengurukan lahan pada 2008–2014, hingga diresmikan menjadi taman pada 2019 dan diperbarui kembali pada 2025.

 

Meski demikian, pengelolaan kawasan ini memiliki tantangan tersendiri. Kondisi tanah bekas timbunan sampah yang labil membuat perawatan harus dilakukan secara berkala.

 

“Setelah hujan, tanah bisa bergerak sehingga beberapa jalur pedestrian harus diperbaiki. Setiap dua sampai tiga tahun juga dilakukan pengurukan agar tetap stabil,” kata Bagus.

 

 

Taman seluas 8,5 hektare ini dibuka setiap hari pukul 06.00–17.00 WIB dan dapat diakses secara gratis. Berbagai fasilitas tersedia, mulai dari taman bunga, jalur pedestrian, hingga area terbuka untuk aktivitas luar ruang. Selain itu, terdapat pula area edukasi satwa seperti kuda, rusa, kelinci, dan ayam kate.

 

Mengusung tema “Harmony of the World”, taman ini dibagi menjadi enam zona bertema benua. Zona Asia menghadirkan gerbang torii Jepang, replika budaya Korea dan India, serta miniatur Dubai Frame. Sementara zona Afrika dan Timur Tengah menampilkan nuansa padang pasir dengan replika Sphinx dan balon udara ala Kapadokia.

 

Zona lainnya menghadirkan miniatur bangunan klasik Eropa, area koboi dan suku Indian Amerika, patung kanguru dan koala dari Australia, hingga replika igloo dan patung pinguin di Antartika.

 

Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, tersedia pula kawasan kuliner Pasar Sorpring yang menjadi wadah bagi pelaku UMKM lokal dengan berbagai sajian tradisional.

 

 

 

 

Sementara itu, dosen Universitas Negeri Surabaya, Naimah Putri Kamila, menilai transformasi bekas TPA menjadi ruang terbuka hijau merupakan langkah strategis dalam pembangunan berkelanjutan.

 

“Ini menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya bernilai negatif seperti TPA tetap bisa diubah menjadi ruang yang produktif dan bermanfaat, asalkan melalui kajian yang tepat,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, konsep revitalisasi tersebut dapat direplikasi di kota lain yang memiliki keterbatasan lahan, selama didukung kemauan politik pemerintah serta rekayasa teknik yang matang.

 

Dengan pengelolaan tersebut, Taman Harmoni tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga simbol keberhasilan pemanfaatan kembali lahan eks TPA menjadi ruang publik yang edukatif, produktif, dan berkelanjutan. (ivan)